By Xram
Dalam bercanda dan bersenda gurau, kadang kala kita sering melampaui batas-batas kewajaran. Terkadang, tanpa kita sadari ucapan dan perbuatan kita telah menyakiti perasaan orang lain. Kekurangan teman sering kita jadikan olok2 dan bahan tertawaan. Adakalanya, teman yang dipersendakan itu ikut pula tertawa, tapi yang pasti, jauh di dalam hatinya tetap merasa keberatan dan merasa tidak senang.
Ucok Baba, yang mencari nafkah dengan melucu pun pernah mengakui kalau di dasar hatinya merasa sedih ketika terpaksa melucu dengan menonjolkan kekurangan pada tubuhnya yang kate. Bayangkan! Sedangkan dibayar sekalipun tetap aja orang merasa tidak senang jika kekurangan pada dirinya di persenda guraukan, apalagi gratis alias tidak dibayar.
Maka dari itu, sebelum mempersenda guraukan kekurangan orang lain, sebaiknya pikirkan jika itu terjadi kepada kita. Atau dengan kata lain, sebelum mencubit tangan orang lain, coba cubit tangan sendiri terlebih dahulu. Sakit apa tidak? Kalau sakit, maka jangan lakukan itu pada orang lain.
Ada pula sebagian orang yang bercanda dengan menggunakan kata-kata yang tidak pantas dan terkesan kotor. Seperti kata2 (maaf) diamput, jancok, kampret dalam bahasa Jawa dan (maaf lagi) kanciang, kantuik, pantek dalam bahasa Minang dan juga bahasa2 daerah lainnya. Yang aneh, hal ini sudah dianggap biasa dan kelaziman dalam pergaulan sehari-hari. Apakah kita tidak berpikir jika hal itu akan mempengaruhi akhlak adik2 maupun anak2 kita kelak di kemudian hari?
Ibarat kata pepatah jika guru kencing berdiri maka tak heran jika murid kencing berlari. Dalam kitab IHYA ULUMIDDIN yang dikarang oleh Imam Muhammad Al-Ghozali, diterangkan bahwa lidah adalah istana syari'at. Kemuliaan dan kebinasaan agama tergambar dalam menjaga lidah. Tidak bisa menjaga lidah dapat membinasakan agama kita.
Diantara kebinasaan lidah ini adalah terlalu banyak bersenda gurau, mengucapkan kata2 yang kotor, bahkan berkata-kata pada yang sia-sia pun termasuk kebinasaan pada lidah.
Jadi, apakah kita mesti hidup statis dan monoton tanpa canda sama sekali? Tentunya tidak begitu, kita boleh bercanda sekedar yang diperlukan atau ketika menghibur teman yang sedang bersedih misalnya.
Dalam suatu riwayat diceritakan, seorang wanita datang menghadap kepada Rasululloh SAW dengan wajah yang muram. Setibanya di hadapan Rasululloh SAW, wanita itu mengadukan masalah tentang suaminya yang pemogoran dan ringan tangan. Wanita itu bercerita dgn wajah sedih dan dgn suara terbata-bata menahan isak tangis.
Melihat keadaan wanita ini, Rasululloh SAW bertanya:
''Apakah suamimu yang ada putih-putih di matanya itu??
Mendengar pertanyaan Rasululloh SAW, wanita itu kaget dan cepat menjawab:
''Bukan ya Rasululloh, suamiku tidak rusak matanya''.
Rasululloh SAW pun tersenyum dan menerangkan, kalau beliau tidak mengatakan mata suami wanita itu rusak, tetapi mengatakan ada putih-putih di matanya, yg artinya setiap mata manusia yang normal sudah tentu ada yang putihnya, kecuali kalau rusak sehingga hitam seluruhnya.
Menyadari hal itu, si wanita pun terasa geli dan kemudian tersenyum yang sedikit banyak telah mengurangi kesedihannya. Jadi, tidak ada kendala atau masalah dalam menjalankan syari'at agama kita jika kita benar2 mau mengamalkan.
Sebab segala sesuatunya sudah ada tuntunannya dalam Al-Qur'an, Al-Hadist (sunnah), ijma ulama dan qiyas.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar