Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, Oktober 14

Dosa Kehidupan

By Alnada

Mata dan nafsu adalah bagian dari dosa. Hidup ini adalah Ruh kedagingan.
Sebagian hidup ini dikuasai oleh nafsu. Berasal dari mata yang melihat indah.
Penglihatan adalah daya tarik yang begitu indah. Menarik nafsu, hingga manusia tergoda.
Jatuh kedalam dosa.
Itulah awal dari dosa manusia.

Bila mata terpejam, maka penglihatan akan gelap.
Tetapi mata dalam hati menjadi terang.
Apabila mata terbuka, maka perhelatan dunia, akan mencuri iman yang seadanya.
Maka mata hati menjadi buta.

Godaan mata menjadikan hidup ini tak ada yg sempurna.
Ibarat minum air laut. Semakin bnyk, semakin haus yang kita rasa.
Dunia adalah kegelapan.
Tetapi ada FIRMAN penuntun hidup.
Berpegang teguh pada IMAN. Dan berbuat seperti TUHAN brkehendak.
Maka hidup kan damai di jiwamu.

Sabtu, Oktober 10

PUISI PYTHON

By: Python

Hati adalah perbendaharaan yang hanya bisa dibaca oleh pemiliknya dan ketenangan batin adalah cahaya yg bersinar dalam kegelapan, mata air yg memancar di tengah gurun pasir dan perbendaharaan yang berada dalam rumah yg ditinggalkan pemiliknya..Berapa banyak waktu yg hilang demi cinta ? Berapa banyak pikiran yang terkuras demi cinta ? Kita tenggelamkan hari kita dalam ucapan2 cinta.

MEMUTUS DOSA

By: g44_gisa

Aku yang dulunya begitu teguh menjaga batas2 hubungan lelaki dan perempuan tewas setelah meneguk madu cinta kasih seorang manusia. Ilmu dan pendidikan yang kuterima tak mampu menyelamatkan aku yang hanyut dalam arus cinta seorang manusia. Cinta itu telah jauh menghanyutkan aku. Telah mengikis rasa malu dalam diri suci seorang wanita. Betapa cinta manusia itu telah menurunkan tabir keimanan yang kubina. Telah menipiskan rasa taqwa kepada Allah.
Hilang adab sopan ku pada lelaki asing yang ku sangka halal buat diriku. Aku tak berhati-hati dengan ilmu yang diimiliki dan pengalaman yang dilalui muslimah lain lalu menyeret aku ke kancah percintaan, melunturkan semangat jihad dalam jiwa lemah seorang wanita.

Syaitan berjaya memperdaya aku dalam lapangan cinta ini hingga tidak mampu aku menolak bisikan dan godaannya. Nasihat dan teguran yang sampai di hati dan pendengaran kubiarkan luput dalam angin maksiat dosa. Namun, aku bersyukur tersentak oleh rasa ingin meninggalkan semua itu. Kuingin memulihkan hati yang jahil, alpa dan ternoda.

Kubersyukur karena masih mampu menahan diri dari terlibat lebih lama dalam dosa dengan lawan jenis ini. Karena ini bukanlah taubatku yang pertama. Bila aku tersadar dari mabuk cinta, rindu, kasih dan sayang seorang manusia, Aku kembali meneguk madu dari gelas yang di hidangkan syetan laknat. Sabar dan taqwa itu lah bekal ku.

YA ROBBUL IZZATI, Kembalikan aku ke dalam diriku semula.. Seperti diri dengan fitrah yang suci tatkala dilahirkan, yang tunduk menyerah dan taat di jalan-Mu. Sesungguhnya cinta yang tidak bersandarkan syara' itu menjadikan jiwa lemah, seperti lemah nya seorang musafir kehausan di padang pasir gersang.. Dan cinta yang di pelihara Allah menjadikan jiwa hamba-Nya teguh seteguh jiwa seorang mujahid yg merindui Syahid di jalan Allah. -Mutiara Amaly-

Kamis, Oktober 8

KUMPULAN PUISI ALNADA

By: Alnada

- SEBENARNYA -

Ungkapanmu membuat perasaanku terpukul. Bertubi tubi perih. Sirnakan senyum ceriaku. Aku jiwai aku bawa alam imajinasi. Bukan sekedar khayal biasa,tp berusaha melihat kembali. Sinar dan indahnya terbit di jiwa mudaku, yg lelah berpeluh bertaruh dgn panasnya gemerlap bebas. Ekspresi jiwa kadang terhempas, dilema yg datang kadang menyeramkan. Khawatirkupun memuncak. Kenpa? Aku merasa sendiri, sepi dalam badai kegelapan yang kadang membekukanku. Aku seperti gelas pecah. Membuat telinga berdengung. Tangisan patah hatiku tak ada yang mendengar. Dimana angin yg biasa membelaiku? Atau yang biasa menamparku agar aku terjaga? Dimana nyanyian hati yg bisa membuai? Atau yg biasa mebuatku melayang agar aku bisa meredam luka? Dimana?

-Sebuah Refleksi-


Hari hari kemarin. Ada masa dan asa yg bermain dalam penantian. Ter0mbang ambing di
antara bayu keraguan. Kucoba nikmati, meski kusadari akhinya tak bisa kuraih. Hari har
i kem
arin. ada tawa dan canda dalam kesedihan. Ada duka dan air mata dalam kebahagiaan. Hari hari kemarin. Ada langkah yang sarat kendali. Tak sedikit yg surut melangkah. Dan biar menjadi 0bsesi. Hidup memang tak hanya satu warna. Seperti kehidupan yg dijanjikanNya.

Hari ini ada yg tersentak. Mengingatkan pada
hakekat hidup yang semata hanya titipan peran. Untuk sampai pada kehidupan yang sesungguhnya. Hari ini refleksi diri menjadi cermin atas pengakuan eksistensi diri. Ternyata aku tak punya apa apa. Bahkan hidup itu pun tak aku miliki. Hari ini ada harapan di sisa usia. Untuk hidup yg lebih bermakna. Sebelum usai itu tiba.

-MUTIARA TERPENDAM-

Panjang angan2 tlah menipuku. Siang dan malam terus mencuri hidupku. Namun masih saja aku sering condong terpikat pada dunia dan hiburannya. Sampai akhirnya datang suatu masa, dimana aku harus berjuang di tanah air yang bukan tanah air yang sebenarnya. Harus kulalui jalanan setapak yang tak pe rnah ku kenali. Menembus ruang dan waktu sendiri. Tubuhku ngilu. Jiwaku kosong dan sunyi. Terus kutatih langkah dalam pencarian jati diri.. Haruskah aku lemah dan menyerang pada putaran sejarah? Tidak!! Dengan kedua kaki yg aku miliki hrus ku temukan jati diri.. 0h tersentak aku sadar, saat deringan hp menyadarkanku. Ku dengar swara dari seberang sana. Ibundaku datang mengatakan. Tabahkanlah dirimu dari keganasan dunia ini anakku. Tiada satu pun kejadian, tak sehelai pun daun gugur melainkan tlah dittpkan waktunya... 0h ibunda 0rang tercinta. Semoga bertemu lagi dalam bahagia.

-MENGGAPAI ASA-

Debur pasir menghitung masa sekiranya tingagl segenggam lagi. Terus saja mengucur tanpa mau berhenti. Bila tlah penuh sembah bakti. Sang pujangga rela lepas baju besi. Berat hati tak dipikir lagi. Jauh diatas akal dlm membelah jantung. Perih tersayat peristiwa sedih berkandung badan. Kubungkus smua kenangan tarik dan kuikat. Pengalaman sedih layak jadikan cermin untuk berdiri. Pergi bukan berarti mati, tapi dimana ukuran diri harus dibanggakan. Mungkin bejana waktu dan hawa baru dapat mengerti. Pastikan langkah untuk menggapai asa kembali.

-SEHELAI RINDU-

Tak ada angin yg mampu membawa harum tubuhmu..dan mengerti bisik nafasmu, karna smua tlah terhirup di depanku... Di telinga kau berbisik, hingga menjamah sukma kalbu...percikan salju teduh meluluhkan dahagamu..di sini binar2 tawa ungkapkan riang, bergelayut di matamu dan mataku...


-SAJAK TENGAH MALAM-


Malam... Kau adalah perantara dari buku kehidupanku, dari dongeng cintaku dengan sang pemerhatimu, dari
kisah masa laluku dalam gelapmu. Malam... Kau adalah saksi pertama sebelum sang purnama. Kau yang paling setia temani setiap perjalanan gelapku degannya. Kau adalah bait puisi yg tercurah dalam hatiku untuknya. Kau adalah perantara duniaku dgn dunianya. Malam... Hanya kau yg tersisa dari sajak percintaanku dgnnya. Kumohon jangan ikuti yang telah tinggalkanku sendiri dlm sepi..

-LORONG KEHIDUPAN-

Langkahku hanya langkah seorang perempuan. Yang merangkak dari puing-puing kehancuran.
Kala itu... Aku dan Dia. Sama-sama tinggal di kota tercinta. Sama2 mengikat janji setia....
Sampai suatu ketika. Aku tak kuasa menerima semuanya.
Namun cuma intuisiku, yang sedih, yang kesal, yang kalut. Mengapa bumi memisahkan jiwaku, sebelum sempat terpeluk dalam cintaku.
Kini...
Pada setiap malam yang sunyi, dalam lautan doa dan kerinduan tak bertepi, kucoba menghapus segala kenangan yang pernah aku punya.
Barangkali itu yang membuat aku di sini, tergolek penat di sudut kotamu.

Ach... Pada awan hitam yang berarak memanjang, jiwaku menggapai gapai.
Dalam sepi. Dalam hampa. Dan berjuta tanya yang teramat sulit aku jawab...
Ketika salju turun dan pep0h0nan kehilangan daun,kemanakah akan pergi mencari matahari?
Salahkah aku? Kan terdamparkah? Atau menyerah pada putaran sejarah?

Dalam kelunglaian langkah masih ada satu garis kabur yang masih dapat aku bisikkan. Kuatkan hati ini ya Tuhan?

Dalam kebekuan aku kadang lelah. Namun aku bahagia. Sebab Tuhan masih memberiku kesanggupan menggerakkan kaki dan tangan-tangan lemahku. Merajut kembali senyum dalam cita dan cintaku. Merenda segenggam harapan yang pernah kurekatkan kuat-kuat pada tapak masa lalu. Untuk ku raih esok yang gemilang...

7 Oktober 2009

-DIHEMPAS TAKDIR-

Dengan sekantong harapan di punggungku, tertatih-tatih aku menyusuri tanah Tuhanku. Hingga sering kepalaku tertengadah ke langit. Namun langit bisu! Sepertinya tuli! Aku yang selalu bersetubuh dengan sunyi, langit diam tak perduli. Namun kudengar satu bisikan menembus langit sampai ke hati
. Wahai penyair yang terbuang... Belum sampaikah kepadamu satu berita? Bahwa setelah kesulitan itu akan ada kemudahan. Tundukkanlah wajahmu! Berjalanlah di stiap jalan tanahKu...hingga kan kau dapati waktunya tiba,...
Maka seketika aku terduduk! Jiwaku bersujud! Kusandarkan tubuhku di lutut masa lalu. 0h Tuhanku dalam termangu kusebut namaMu.


-CITA ~ CITA-


Aku hanya orang buta, yang setiap hitungan detik yang kupunya hanyalah malam. Jangan tanya padaku, bagaimana terangnya siang. Atau indahnya bulan. Tapi yang selalu jadi impianku adalah aku bisa melihat bintang. Aku bisa melihat laut. Aku bisa melihat bumi, juga melihat dirimu. Kehormatan dari kehinaan wujudku bagaikan tingginya bintang. Kebahagiaan dari kedukaan jiwaku bagaikan luasnya lautan. Kehidupan dari kematian asaku bagaikan panasnya bumi. Keindahan dari kesuraman cintaku bagaikan sucinya cintaku padamu. Aku hanya ingin menjadi yang tercantik yang tak cela di hatimu. Aku hanya ingin menjadi orang memujamu sangat tampan sebagai lambang dari segala keindahan. Aku hanya berharap. Bila sampai saatnya nanti, akupun masih tetap buta. Aku ingin kau tetap jadi tongkatku dan jangan lepas tanganku. Itulah sebilik cita dan cinta.

Rabu, Oktober 7

KUMPULAN PUISI

By: rock1825

- LELAKI TUA - Aku adalah lelaki tua yang tergerus jaman, melihat dunia dengan masa laluku. Di lembah inilah puluhan tahun aku terdiam menyaksikan perubahan. Dengan cerutu dan secangkir teh di tiap pagi, aku berkelana melewati waktu di alam kenanganku. Semua memang - telah berubah. Manusia semakin pintar, teknologi semakin maju, semua serba mudah,...tetapi alam semakin rusak, manusia semakin tak manusiawi. Tampaknya modernisasi membuat hukum rimba di tengah kota semakin merajalela. Apakah memang demikian kodratnya? Demi perubahan haruskah menggadaikan hati nurani?

- TAWA SERIGALA - Masih tentang kita semua..dengan berbagai macam rupa dan warna.Terlalu banyak kelabu yang singgah di hati...menusuk-nusuk dan menghasut-hasut dengan pisau keresahan. Serigala2 berwujud manusia pun berkeliaran mencari mangsa demi memuaskan dahaga kekuasaan. Sang remaja yang letih dengan mudahnya terpedaya. Dengan angkuhnya, dia berkata siap menjadi pahlawan. Tak lama dia pun muncul di televisi, bukan sebagai pahlawan..tapi seonggok daging hangus diantara reruntuhan berasap pekat dan jerit tangis anak manusia. Sekali lagi nyawa manusia melayang, menyisakan air mata dan kepedihan yang teramat dalam. Di suatu tempat, serigala2 menyeringai puas atas apa yang telah terjadi.


- DI PERSIMPANGAN -
Aku berada di persimpangan...setelah kulalui jalan yang begitu terjal. Terkadang hidup tak terasa menyenangkan, tak menyisakan banyak pilihan. Akhirnya kupunguti kembali ceceran kisahku di sepanjang jalan yang tadi kulalui. Kuterdiam sesaat, mencoba mencerna serpihan2 itu. Ada tawa, ada duka, ada bahagia, dan ada kebisuan yang belum mampu aku pecahkan. Ternyata dialah yang membuat langkahku terhenti. Kuambil belati..lalu kutikam dia. Sekarang aku bebas..telah kukalahkah kebisuan ini. Kubersiap melangkah...di persimpangan jalan.

- KERETA - Aku menunggunya cukup lama. Dia belum datang juga. Hari ini dia berjanji mengantarku ke tempat tujuanku. Mungkinkah dia lupa?? Ku coba tuk sedikit bersabar. Tak lama, dari kejauhan kulihat titik hitam semakin mendekat. Akhirnya keretaku datang juga. Tubuhnya yang tua tak menghalanginya menepati janjinya kepada orang2. Segera kumasuki dia, membawa semua asa. Terbayang wajah ayah bundaku.


- OMBAK -
Aku melihatnya, saat ia menyapu pasir2 pantai. Aku mendengarnya..saat ia menghantam karang2. Aku merasakannya, saat ia menerpa seluruh tubuhku. Aku berdoa, semoga ia tak menyeretku semakin jauh.

- MENUNGGU - Aku menunggumu, datang ke hatiku. Aku menantimu, hadir di hatiku. Telah aku persiapkan segalanya di sana. Telah kupertaruhkan semuanya di sana. Kapan kau datang???

- DIAM - Aku diam..bukan melamun. Aku diam..bukan berkhayal. Aku diam..bukan bersedih. Aku hanya diam. Kadang aku butuh sendirian.

- Hujan - Aku ingin seperti hujan..membasahi dedaunan, menyegarkan rerumputan. Aku ingin menjadi hujan, selalu dinanti saat kemarau panjang. Aku mencintai hujan, merindukan saat tetesannya membasahi tubuhku. Aku berharap menjadi hujan yang mendamaikan gersangnya hatimu.

- DIA - Wajah lusuhnya tegar menantang dunia. Caci maki yang kadang datang tak membuatnya gentar. Ku lihat dia tetap berjalan dengan alas kaki bututnya. Gitar tua nya slalu menemani kemana dia pergi. Suaranya yang tak terlalu merdu itulah yang selama ini menghidupinya. Aku termenung, anak seusia dia sudah harus merasakan kejamnya ibu kota. Segera ku bercermin, ku lihat diriku belasan tahun lalu. Nasibku tak semalang dia. Orang2 yang menyayangiku slalu ada untukku, bahkan hingga sekarang. Aku malu..aku tak setegar dia. Tak lama diapun pergi dengan langkah mantap. Dari jendela bus, aku terus menatapnya. Aku harus mewarisi semangat hidupnya.


- EMBUN di PAGI ITU -
Mataku belum juga terpejam. Alam pikiranku seakan tak mau berhenti menyusuri lembaran-lembaran kenangan. Kulihat dia tersenyum di pagi itu, di samping embun2 yang tak berhenti menetes dari dedaunan. Embun2 itu seakan tak rela melewatkan senyum bidadariku, yang dengan penuh cinta menatap hamparan hijau di hadapannya. Aku hanya diam terpaku, menikmati paras
ayu bidadariku di pagi itu, sama seperti embun-embun.

- PERANG BELUM USAI - Hari ini masih pagi..dinginnya masih terasa mendamaikan hati. Nyayian merdu ayam jantan terdengar sayup-sayup dikejauhan. Bau embun menghiasi cerahnya hari. Seharusnya pagi ini adalah pagi yang damai, pagi yang tenang. Tapi entah mengapa ada kekosongan dalam jiwa ini. Aku bergetar, hampa kurasakan. Walau hati mencoba berkelakar, tapi tetap saja gundah menjalar. Aku tahu, perang belum usai dalam diriku.

- GITAR TUAKU - Kujelajahi dia dengan jari-jariku. Dawai-dawai berkaratnya masih mampu bersenandung merdu. Kupejamkan mata sekilas, mencoba resapi kisah-kisahmu. Aku tergetar, mataku terasa panas, dadaku terasa sesak. Esok paginya, ku terbangun, masih dengan pena di tangan. Ku pungut selembar kertas tak jauh dari gitar tuaku..sebuah lagu tercipta untukmu.

Recent Posts

Recent comments

Pengikut

Site Info