Minggu, Oktober 18
BALADA BUMI
Hai namaku bumi. Aku sedang sangat sedih sekarang. Aku diperintahkan oleh Tuhan untuk sedikit menari, memberi pelajaran pada manusia. Jika saja yang menyuruhku bukan Tuhan, tentu akan kuabaikan perintah ini. Tapi ini adalah titah Tuhan, penguasa semesta alam. Aku, si bola biru yang kecil tak punya kuasa apa2 untuk mengabaikan perintah-Nya. Tanpa banyak komentar aku langsung mengiyakan titah-Nya. Aku sampai lupa menanyakan alasan mengapa harus diambil langkah ini. Menurut analisisku, Tuhan mulai bosan dengan tingkah laku manusia yang semakin tak manusiawi. Banyak manusia sekarang gemar saling tikam, saling caci, saling merendahkan, saling bunuh, dan tak jarang merampas sesuatu yang bukan miliknya. Daftar itu belum ditambah dengan perzinahan yang saat ini semakin marak dilakukan kaum remaja dan perusakan alam dengan dalih ekonomi. Jika dirunut-runut tentulah memory hp yang hanya 1 gb tak akan sanggup menampungnya. Ya sudahlah, memikirkan hal ini malah membuat aku semakin pusing tak bertenaga. Lebih baik tenagaku kusimpan untuk nanti sore.
Aku semakin cemas. Kurang dari 1 jam lagi aku akan beraksi. Aku sangat sedih memikirkan dampak yang akan terjadi nanti. Masih teringat jelas bagaimana menyayatnya rintihan gadis kecil yang tertimpa reruntuhan di gempa sebelumnya kurang dari sebulan yang lalu. Aku juga masih ingat betapa menyedihkannya tangis seorang bapak yang kehilangan anak semata wayangnya. Anak laki2 itu bernama Amin. Amin adalah mahasiswa cerdas harapan keluarganya. Paiman, sang ayah bekerja mati2an untuk menguliahkan Amin. Ternyata takdir berkata lain. Amin tak pernah merasakan jadi seorang dokter. Tak terasa air mataku mulai meleleh. Tak kuat rasanya menanggung himpitan rasa ini.
”Gempa.....ada gempa...ayo lari. Astagfirullah...bu, ayo cepat lari. Nak, dimana kamu nak?” kudengar berbagai macam teriakan. Dengan berlinang air mata aku terus saja menari. Di sebelah barat lebih mengenaskan lagi. Aku harus menimbun 3 desa yang saat itu sedang berlangsung hajatan pernikahan. Tak terperi rasanya menyaksikan jeritan calon pengantin wanita yang tertimbun longsor. Belum lagi para tamu undangan yang tak sempat menyelamatkan diri harus rela terkubur hidup2. Aku semakin sedih menyaksikan anak2 sd yang tertimbun rerutuhan bangunan kebanggaannya. Sekolah yang diharapkan menjadi batu loncatan menuju kesuksesan ternyata malah menjadi tempat meregang nyawa.
Akhirnya aku menghentikan goyangan mautku ini. Goyangan mautku ini bukan sembarang goyangan seperti penyayi2 dangdut yang haus popularitas. Goyanganku benar2 maut. Yang menjadi korban kali ini ribuan orang, mulai dari anak2 sampai orang tua. Di sudut jalan kulihat seorang anak yang keningnya berdarah. Sambil meringis menahan sakit, dia terus saja memanggil-manggil ibunya. Usahanya belum membuahkan hasil. Ibunya entah ada di mana. Mungkin saja orang yang dicari-cari itu sudah mati mengenaskan di bawah reruntuhan bangunan. Di blok sebelah kulihat seorang ayah yang panik sedang menggendong putri kecilnya. Alisa, gadis kecil itu benar2 malang. Nyawanya sudah di ujung tanduk. Balok besar menimpa tubuh mungilnya. Jika tidak segera mendapatkan pertolongan, dia bisa tinggal nama. Air mataku semakin mengalir deras. Aku sangat sedih.
Tiga minggu telah berlalu sejak peristiwa pahit itu. Matahari seperti biasa selalu
menyapaku di pagi yang cerah. Aku sangat kagum padanya. Sinarnya mampu berlari 300 ribu km/s sehingga jaraknya yang jauh dariku hanya ditempuh dalam waktu beberapa menit saja. Kemarin aku sempat bercakap-cakap dengan matahari. Aku protes karena sinarnya semakin panas saja. Hal ini membuat sawah2 dan ladang2 petani kering kerontang. Aku sangat sedih melihat keluarga petani di desa ABC harus makan nasi aking karena sawah mereka gagal panen. ”Hai bumi...ini bukan salahku. Setiap hari aku selalu menyinari engkau dengan intensitas cahaya seperti ini. Bahkan intensitas cahaya yang aku pancarkan melemah secara perlahan karena keterbatasan bahan pemicu reaksi fusi. Engkau harusnya bersyukur karena masih aku beri cahaya. Suatu saat bisa saja aku berhenti bersinar dan tamatlah dirimu. Yang salah sebenarnya adalah manusia. Mereka membuat lapisan ozon yang melindungimu dari radiasi semakin menipis. Dengan semakin tipisnya lapisan pelindungmu, maka semakin besarlah radiasi yang engkau dapat.” sungut matahari. Aku hanya terdiam mendengar perkataannya. Sepertinya dia benar. Ehm, lagi2 manusia. Mereka semakin lama semakin tidak mempedulikan aku. Demi keuntugan materi, mereka tak segan2 membakar hutan ataupun membabatnya sampai habis. Belum lagi usaha pertambangan yang tidak disertai dengan usaha reboisasi. Lautan pun tak luput dari ulah nakal mereka. Terumbu karang yang indah saat ini semakin habis dikuras otak2 kapitalis. Selama ini aku bersabar dengan ulah manusia, entah sampai kapan aku mampu melakukannya.
Belum hilang sedihku, hari ini aku harus menerima kenyataan pahit. Di desa PNRG aku melihat banyak manusia terbelakang mental. Setelah kuselidiki, ternyata ini adalah daerah miskin dimana penduduknya jarang makan nasi. Hal ini membuat sebagian besar dari mereka kekurangan gizi dan akhirnya menderita gangguan mental. Yang semakin menyedihkan adalah angka statistik yang menyatakan 50% penduduk menderita gangguan mental. Aku tidak habis pikir....dimana pemerintah selama ini??? Tidakkah mereka tahu penderitaan rakyat semacam ini? Apakah mereka sudah terlena dengan propaganda yang disampaikan para pejabat2 yang mengatakan bahwa Indonesia semakin baik, kemiskinan semakin menurun?
Hai para manusia,..jika kalian mendengarkan curhatku ini, kumohon renungkanlah pesan2ku ini. Aku berharap kalian bisa berdamai satu sama lain, sayangilah diriku ini karena kehidupan kalian juga terkait erat denganku, sayangilah sesama kalian...bantulah mereka yang kesusahan. Jangan biarkan saudara-saurara kalian kelaparan sementara kalian makan di rumah makan yang mewah. Aku berharap keadaan bisa semakin membaik dan aku tak perlu lagi bergoyang maut untuk sekedar menyadarkan kalian. Salam hangat dariku, Bumi.
Cerpen DEPRESI
Sebelumnya ku minta maaf ya. Bukannya sombong, tapi cuma pengen share aja. Ini adalah cerpenku yang Alhamdulillah pernah di muat di Harian Solopos edisi 3 Mei 2009, halaman VIII. Nah ini cerita asli yang kutulis, sedangkan yang dimuat di Solopos bisa di lihat di sini: Cerpen Depresi Solopos
Selamat membaca
Mati aku.. mataku tak percaya menatap spidol yang digoreskan anggota KPPS di papan tempat namaku tercantum kecil dengan nomer urut lima. Sepuluh, dua puluh, tiga puluh Tidak sampai dua ratus! Masih jauh sekali dari targetku sebesar seribu lima ratus suara. Mati aku!
***
Oke pak, semua bisa diatur. Jangan khawatir, saya sudah berpengalaman di bidang ini. Jaminan? Haha, masa bapak tidak percaya dengan saya? Silahkan anda lakukan apapun terhadap saya jikalau bapak tidak dapat melenggang. Ah, baik. Selamat bersenang-senang pak, menunggu kemenangan bapak yang tinggal beberapa waktu lagi. Baik, selamat malam Pak. Saya akan mulai bergerak satu jam lagi bersama tim saya
***
Dengan diantar anakku, aku pulang ke rumah dengan wajah pucat. Bagaimana bisa target hanya terpenuhi segelintir?
Wajahku semakin pias saat menyadari sudah banyak sekali barang-barang dirumah ku yang hilang. Televisi tiga puluh dua inci hadiah dari adikku yang kerja di Amerika. Atau mobil mercy hitam kesayanganku yang kudapat melalui jerih payah bekerja sebagai manajer perusahaan travel. Semua ludes. Ah, belum lagi sepuluh sapi dan puluhan kambing yang terpaksa ku lego demi ambisi meraih kursi. Padahal itu untuk investasi bagiku dan anak-anak. Mimpi menjadi kaya dalam sekejap malah berbalik menghantam dengan kenyataan menjadi miskin dalam waktu singkat. Berapa kerugianku semua? Aku tidak mampu berfikir. Aku terlalu goyah untuk membayangkan hidup dalam ketiadaan lagi seperti dulu. Ah, gelap sekali
***
Dua setengah jam aku pingsan. Di sekeliling kulihat istriku dan satu anakku yang menatap dengan khawatir. Apa mereka juga khawatir karena akan menjadi miskin? Atau mereka tidak tega melihatku berpucat muka seperti ini?
Apa kubilang. Bapak tidak usah memaksa untuk jadi anggota dewan! Aku sudah bilang untuk apa menjual semuanya demi ambisi bapak yang tak tahu diri! Istriku langsung menyembur setelah dia sodorkan segelas air hangat untukku. Air yang tadinya membuat nyaman sekejap bagai duri yang menyakiti kerongkonganku.
Coba bapak sekarang lihat. Semua yang sudah susah payah kita kumpulkan dari dulu hilang. Bagaimana kita bisa melanjutkan hidup kita? Setengah tahun lagi bapak pensiun. Anak-anak makan apa? istriku terus menyerangku. Aku memejamkan mata.
Aku dulu sudah bilang, ambisimu bisa membunuh kita semua!! kemudian istriku keluar kamar. Aku paham mengapa dia marah sekali, karena dia akan kehilangan masa-masa menikmati kekayaan yang belum lama direguk. Namun, semua itu belum cukup parah
Pak, ternyata pinjaman kita untuk membeli kambing dan sapi akan jatuh tempo besok. Jumlahnya tujuh puluh lima juta. Tadi ada yang menelepon, katanya besok akan ada yang menagih. Putra, anakku lelaki yang memilih tinggal disini berbicara lambat-lambat. Tampaknya dia cukup pengertian untuk tidak ikut-ikut menyembur seperti ibunya tadi. Tapi ku juga hanya bisa diam.
Kak Ratna akan ujian akhir dan butuh uang. Kak Rudi akan praktek ke Sulawesi dan meminta laptop Pak. Mereka butuh biaya Walaupun dengan pelan-pelan, sama saja. Menyakitkan. Ku berharap aku pingsan lagi agar tidak jadi mendengar berita tadi
Tak lama istriku kembali. Di tangannya ada batu mulia. Tampaknya berlian. Aku menatap kosong ke arahnya.
Bagaimana aku bisa membayar ini? Aku sudah membayar setengahnya dan tidak bisa ditarik lagi. Sudah tiga puluh juta kukeluarkan untuk setengah harga ini. Ku memejamkan mata lagi. Ku saat ini hanya ingin melihat gelap.
***
Berturut-turut berita derita yang datang kepadaku seolah belum cukup. Beberapa tim sukses menuntut bayaran yang belum mereka terima. Ada pegawai percetakan yang menagih tunggakan bayaranku Lalu ada lagi lima orang perwakilan warga yang menuntut janjiku memberikan bantuan bahan bangunan untuk tempat mereka tinggal. Ah, aku juga baru ingat pernah berjanji kepada tetanggaku untuk membantu biaya sekolah anak-anak mereka setelah mereka mencontreng namaku. Karena itu aku tidak berani keluar rumah. Biarlah suasana yang seperti neraka ini menjadi tempatku untuk sementara waktu.
PAAAKKK!!!! Istriku berteriak histeris. Dengan sempoyongan akibat pusing akut yang mendera aku menghampirinya. Di depannya ada empat orang berbadan tegap sedang menunjukkan kertas kepada istriku.
Bapak Andri, anda kami jemput untuk memberikan keterangan. Karena tim sukses anda tertangkap tangan melakukan pelanggaran Pemilu berat. Siapkan pengacara anda sekalian.
Lagi dan lagi. Dasar orang bodoh! Bagaimana bisa tertangkap tangan? Kurang besarkah uang tiga ratus juta untuk mereka? Bagaimana aku bisa mempersiapkan pengacara? Dengan apa aku membayarnya? Mati aku.
Kamis, Oktober 8
SURAT DARI SAHABAT
Assalamu'alaikum wr.wb ukhti sayang..aku tak pernah melihatmu serapuh ini sebelumnya, tetes air mata yang meleleh di pipimu seakan jadi tafsir sebagia robohnya galau yang tak terbendung lagi. Mungkin aku tak cukup paham apa yang menjadi dilemamu, tapi aku cukup bisa mengerti kepenatan yang kau endapkan. Ukhti..aku hanya ingin kau tau bahwa ukhti tak sendiri, kau punya kami, teman untukmu berbagi. Hati kami insyaAllah tidaklah dangkal yang hanya tahu keriangan belaka, kami juga mau berbagi beban meskipun dengan segala keterbatasan kami, meskipun empati kami tak bisa sepenuhnya merasakan. Ukhti..cukupkanlah ini sebagai suatu bukti kasih sayang Allah. Dengan ujian ini berarti Allah masih menatap lekat pada ukhti, Dia tak ingin ukhti lepas dari genggaman-Nya. tetapkan hati ukhti, tanyakan pada nurani terdalam ukhti, jangan pernah melangkah dalam kebimbangan, tinggalkan keragu2an. beruntung kita terlahir sebagai seorang muslim yang punya jalan untuk bertanya langsung pada Robb yaitu dgn istikharoh. Aku sama sekali tak bermaksud mendikte ataupun menggurui, aku juga masih sering keliru dan menjadi lemah.. ini hanyalah rasa seorang teman yg bergemuruh hatinya ketika sahabatnya seakan luruh dan ingin menyerah. Jika ukhti ingin terus melangkah, jejakkanlah kaki ukhti dengan keyakinan penuh, jika tidak maka lepaskanlah dengan keikhlasan yang penuh juga. Jangan berada dalam kegamangan karena itu akan memberi peluang besar bagi syetan untuk brsorak penuh kemenangan. Yakinlah atas ijin Allah, Dia lebih tahu mana yang terbaik buat kita. Dzikir dan istighfar terus ya ukh.. lnsyaAllah Allah akan membuka jalan dan memberi kemudahan dari arah yang tak pernah kita duga.. Laa takhaf wa laa tahzan, lnnallaha ma'ana.. with much love Wassalamu'alaikum wr.wb -memory 7 june 2006-
Rabu, Oktober 7
LIBURAN JIBRIL
Dia teringat pada Muhammad yang menjadi anak asuhnya waktu itu. Atas perintah Tuhan, Jibril memberitahukan sebagian rahasia semesta kepada Muhammad. Dengan kecerdasannya dan ijin dari Tuhan tentunya, Muhammad berhasil memberikan pencerahan dan membuat manusia meninggalkan kejahiliahannya. Ketika ditinggalkannya dulu, banyak manusia yang berteriak Allahuakbar..sehingga Jibril dengan hati puas pergi meninggalkan bumi.
Kini, Jibril datang lagi ke bumi. Dia membayangkan keadaan bumi yang damai, semua saling bergandeng tangan, tidak ada lagi penindasan, semua saling membantu. Dengan hati yang senang dia mempercepat kepakan sayapnya. Dilihatnya bumi semakin dekat.,.dekat..dan dekat. Akhirnya diapun sampai juga di bumi. Dengan riang, Jibril segera melepas lelah di atas batu besar. Cuaca bumi hari ini sedang panas, apalagi di gurun ini..sungguh sinar mentari terasa menyengat. Di tengah2 lamunannya, sayup2 Jibril mendengar teriakan2 ''Allahuakbar,.Allahuakbar''. Dia semakin senang, ternyata manusia2 sekarang semakin religius. Jibril segera bangkit, dia melesat ke arah asal suara. Di sana, dia melihat orang2 bersurban membawa tongkat sambil berteriak 'Allahuakbar'. Tetapi keriangan Jibril tak berlangsung lama. Orang2 bersorban tersebut menuju kamp. Di sana ada sekumpulan orang kulit putih berseragam loreng2 hijau terikat tangannya. Tak lama, orang2 itu tumbang bermandikan darah diterjang peluru, diiringi teriakan Allahuakbar. Dunia macam apa ini? Jibril sangat sedih. Tak menyangka orang2 bersorban itu tega membantai sesamanya, apalagi diiringi teriakan takbir. 'Ini sebuah kesalahan, aku salah telah turun di sini..' gumam jibril. Dengan perasaan galau, Jibril melesat meninggalkan tempat itu. Dia berfikir, akan kemana dia sekarang. Akhirnya Jibril memutuskan akan ke Yerusalem, tempat yang disucikan oleh 3 agama besar. ''Pastilah disana selalu damai, tentram'' pikirnya. Tak lama, sampailah Jibril di tempat tujuan. Ah, betapa terkejutnya dia melihat keadaan di tempat itu. Kendaraan2 lapis baja merangsek rumah2 penduduk, desingan sejata mengantarkan kematian orang2 yang meneriakan takbir. Hatinya sedih, galau, kacau. Tadi dia menyaksikan orang2 yang meneriakkan Allahuakbar membantai sesamanya, kini giliran orang2 yang meneriakkan Allahuakbar dibantai. Jibril sangat marah, dengan sekuat tenaga dia melesat meninggalkan bumi dengan energi yang begitu besar. Di televisi2 swasta di beritakan telah terjadi badai listrik di langit utara. Jibril terus melesat, menyesal rasanya dia telah berkunjung ke bumi.
DERMAWAN DAN JIHAD
Qais segera pergi ke kebun dan mengumpulkan kurma seharga pembelian unta2 tersebut. Ketika Qais menyerahkan kurma itu kepada orang2 Juhani, lelaki itu berkata ”sungguh tepat dugaanku, ayahmu tidak akan menelantarkanmu” demikian keluhuran budi yang telah kita lihat dari pribadi Qais. Maka ketika Rasulullah mendengar apa yang tlah dilakukan Qais, baginda bersabda ”Sungguh ia adalah anak keluarga dermawan.” Qais adl contoh tokoh dalam jihad dan kedermawanan. Begitu murah hati, sehingga jika ada sesorang mengembalikan hutangnya, ia memberikan lagi kepada orang itu . Pada suatu hari, seorang muslim datang kepadanya untuk meminjam uang 30.000 dirham untuk membeli sebuah rumah. Ia meminjami uang yang diperlukan. ketika lelaki
itu hendak menyerahkan uang pembelian rumah, ternyata pemilik rumah menaikan harganya. Maka lelaki itu kepada Qais dan mengembalikan uang pinjamannya, tapi Qais tidak mau menerimanya dan berkata ”kami tidak akan menarik kembali uang telah kami berikan.”
Pada suatu ketika,ada seorang wanita miskin datang kepadanya dan berkata ”Aku tidak mempunyai apa2, sehingga seekor tikus pun tak ada yang masuk ke rumah kami karena tidak ada makanan.” Maka Qais berkata ”Demi Allah nanti rumahmu akan didatangi oleh tikus yang banyak.” Kemudian Qais menghantarkan makanan yang banyak ke rumah wanita itu. Sebelum meninggal dunia, ayah Qais, Sa'ad ibnu ubadah telah membagi hartanya kepada anak2nya, tetapi kemudian istrinya melahirkan anak lagi setelah Sa'ad meninggal dunia. Maka Abu Bakar dan Umar datang kepada Qais dan bertanya apakah boleh pembagian yang dulu telah ditentukan ayahnya itu dibatalkan
agar anak yang baru lahir tersebut memperoleh haknya? Qais berkata kepada mereka bahwa ia tak akan merubah apa yang telah ditentukan ayahnya dan ia rela memberikan
bagiannya kepada saudaranya yang baru lahir.
Qais sangat mencintai keluarga Rasulullah dan ia berpendapat bahwa mereka lebih berhak menduduki kursi kekhalifahan daripada Bani Umayah. Karna itu ia berperang bersama Ali dalam perang jamal, perang shiffin, dan perang nahrawan. Ketika Ali terbunuh, Qais bersama 5000 orang mencukur rambutnya sebagai tanda duka atas kematian Ali.tp tiba2 mereka dikejutkan oleh hasan Ibnu Ali yang bersedia membaiat Muawiyah. Maka Qais berkata kepada kawan2nya ”Jika kalian mau, aku akan memberimu perlindungan” jawab mereka ”Berilah kami perlindungan.” Maka Qais memberi perlindungan kepada mereka, kemudian ia kembali ke Madinah dan menekuni ibadah sampai ia jatuh sakit dan meninggal dunia. Ketika ia sakit, kawan2nya menghindar bertemu dengannya, sampai ia brtanya ”Mengapa orang2 tidak ada yang datang menjenguk aku?” Ketika diberitahu bahwa mereka malu datang karena masih mempunyai hutang kepadanya, maka ia menyuruh seseorang
mengumumkan ”Barang siapa mempunyai hutang kepada Qais Ibnu Sa'ad Ibnu
Ubadah, maka ia dibebaskan dari hutangnya.” Dalam sekejap saja orang ramai datang kepadanya sampai tingkat atas rumah qais roboh disebabkan ramainya orang yang menjenguk. Qais meninggal dunia pd thn 66H pada akhir kekhalifah Muawiyah
Minggu, Oktober 4
Antara Jambrong dan tuhannya
Jambrong
Hari ini aku akan bertemu tuhan. Tuhan sangat baik padaku. Dia selalu mendengar doaku dan mengabulkan permintaanku. Aku yang dulu hanya orang biasa, kini menjadi luar biasa. Banyak sudah mukjizat yang aku miliki. Dengan ijin tuhan, aku mampu menaklukan berbagai macam jin. Jin2 yang kutaklukan akan menjadi sangat penurut kepadaku. Mereka akan dengan senang hati melakukan perintah2ku. Kemarin ada seorang pemuda datang padaku. Dia minta supaya bisa lolos CPNS. Aku mengatakan padanya agar dia tenang. Segala keinginannya pasti bisa terwujud dengan bantuan tuhan. Mendengar perkataanku, wajah Heri menjadi begitu cerah. Dia meninggalkanku setelah sebelumnya menciumi tanganku dan mengucapkan terima kasih.
Akhirnya waktu itupun tiba. Tuhan datang di hadapanku dengan wujud cahaya putih. Dia memintaku supaya menyembelih seekor anak kambing di bawah pohon beringin tua dekat pekuburan tepat jam 12 malam. Aku sangat senang. Ternyata syarat yang diajukan tuhan kali ini mudah saja.
Tiga hari kemudian aku berjalan dengan santai sambil membawa seekor anak kambing dan sebilah golok. Heri memang sangat besungguh-sungguh dalam melaksanakan niatnya. Siang tadi, setelah kujelaskan tentang persyaratan yang diminta tuhan agar dia lolos CPNS, tak sampai 3/4 jam dia kembali datang padaku dengan membawa seekor anak kambing berwarna putih. Golok mulai menyayat leher kambing kecil. Darah segar segera melucur dengan derasnya. Tak lupa sebelumnya aku menyumpal mulut si kambing dengan kain agar tidak terlalu berisik saat ku sembelih. Upz, aku lupa bertanya pada tuhan tentang satu hal. Harus diapakan kambing kecil yang kini tak bernyawa ini? Ah, bodohnya aku sampai lupa bertanya tentang hal itu. Di tengah kebimbanganku, tuhan kembali hadir. Aku sangat takzim, tak menyangka kali ini rela hadir untuk memberikan pencerahan di tengah kegalauanku. Dia memerintahkan aku supaya mengubur anak kambing itu. Dengan taat, aku lakukan perintahnya itu. Akupun segera kembali pulang dengan wajah lega.
Dua minggu setelah acara penyembelihan kambing, aku menjalani hidup seperti biasa. Jika tidak ada pasien, aku akan membaca amalan2 dari tuhan. Walau tak mengerti artinya, aku tetap membacanya karena berasal dari tuhan. Dengan begitu, tuhan akan semakin menyayangi aku dan semakin mudah pula aku mendapatkan keinginanku. Aku melihat sekeliling rumah megahku. Ini adalah hadiah dari tuhan, lewat uang yang kudapatkan dari pasien2ku. Aku sangat beruntung bisa mengenal tuhan secara pribadi.
Tak lama, asistenku memberitahu bahwa ada orang yang ingin bertemu denganku. Ku bilang padanya agar mempersilahkan orang itu masuk. Dengan langkah tergesa-gesa Heri datang menghampiriku. Tanpa basa-basi, dia mencecar aku dengan kata2nya yang menusuk hati. Ternyata dia tidak lolos CPNS. Aku sangat syok mendengarnya. Tidak biasanya tuhan tidak menepati janjinya. Oh tuhan..mengapa kau lakukan ini padaku? Di mana kau berada? Aku ingin sekali bertemu denganmu. Sepeninggal Heri, aku masih termenung. Aku menanti tuhan. Tuhan si Jambrong
Hahaha..bodoh benar si Jambrong. Dia mengira aku adalah tuhannya. Setiap hari dia membaca amalan yang kuberikan padanya, yang tak lain adalah penghujatan terhadap Tuhan. Aku sangat membenci Tuhan. Dia dengan semena-mena mengusir nenek moyangku dari surga hanya karena beliau tidak mau bersujud pada Adam. Untuk apa kaum terhormat seperti kami bersujud kepada Adam yang terbuat dari tanah. Sekarang kami hidup bebas di bumi, tentunya dengan dimensi yang lain dari dimensi manusia. Kami sudah bertekad akan menyesatkan manusia hingga akhir jaman. Kami selalu berlomba-lomba dalam menyesatkan manusia. Yang paling dihormati diantara kami adalah yang paling hebat dalam membuat manusia berpaling dari Ilahi dengan melakukan dosa2. Tempo hari ada seorang manusia bodoh yang datang kepada Jambrong. Dia minta supaya bisa lolos CPNS. Hahaha..aku tertawa puas. Di jaman digital ini masih saja ada orang2 bodoh seperti dia. Orang2 seperti inilah nanti yang akan menemaniku di jahanam. Jambrong menjanjikan bahwa segala urusan akan beres. Seperti biasa, Jambrong memohon aku datang. Akupun datang kepadanya dalam wujud cahaya putih..ya supaya dia semakin yakin kalau aku memang benar tuhannya. Dengan iseng, aku memintanya supaya dia menyembelih seekor anak kambing di bawah pohon beringin besar di dekat pekuburan. Sebenarnya ada alasan kecil kenapa aku menyuruh dia melakukannya di tempat itu. Tempat itu adalah rumah 5 kawanku. Tentu mereka akan sangat senang bisa menyaksikan satu lagi kebodohan manusia. Saat ini Jambrong sedang sedih. Pasiennya tidak lolos CPNS. Jambrong merasa sangat terpukul. Berulang kali dia memohon kehadiranku. Aku terpingkal-pingkal melihat tingkahnya. Seharian dia komat-kamit membaca amalan sesatku. Sesekali dia menangis karena aku tak kunjung datang. Ku biarkan dia melakukan apapun yang dia suka. Aku hanya menyaksikannya dari kejauhan, tanpa berniat untuk menemuinya. Akan kubiarkan dia menjadi gila seperti kebanyakan orang sepertinya. Tak lama 5 kawanku datang. Mereka ikut terbahak-bahak melihat ulah bodoh Jambrong. Setelah puas menertawakan kebodohannya, jambrong kutinggalkan sendirian dalam kegamangan. Aku dan kawan2ku terlibat pembicaraan serius. Dengar2 beberapa kaumku di luar negeri berhasil menghasut orang2 yahudi untuk membantai umat islam di palestina. Ada pula kabar tentang kawanku yang berhasil menghasut salah satu pemuda kampung untuk menggagahi tetangganya hingga hamil. Aku sangat senang. Semakin banyak saja temanku kelak di jahanam. Jika kalian ingin berteman denganku, jangan hubungi aku via ym atau facebook karena terus terang aku agak gaptek. Kalian cukup meniru si Jambrong, atau bisa juga dengan saling saling curiga, saling hujat, saling bunuh, atau bahkan melakukan bom bunuh diri di hotel-hotel. Tenang saja, nanti di neraka akan kuminta Tuhan untuk menempatkan kita di ruang vip.
AKU DAN TEGAR
Hai, namaku Ikhlas Prihatin. Orang tuaku memberiku nama demikian karena saat aku dilahirkan keadaan kami memang sedang susah. Ayahku yang buruh pabrik saos kena phk karena perusahaan kolaps. Hanya dari penghasilan ibuku sebagai buruh cucilah kami dapat menyambung hidup. Dengan memberi nama tersebut, orang tuaku berharap aku selalu ikhlas dengan segala keprihatinan yang terjadi pada kami. Masa kecilku memang benar2 menyedihkan. Ayahku yang waktu itu bekerja serabutan tak mampu menyekolahkan aku lebih tinggi lagi. Saat anak-anak seusiaku riang gembira berangkat ke sekolah dengan seragam biru putih kebanggaannya, aku harus puas hanya sempat memakai seragam merah putih…warna yang sama dengan bendera kebangsaan kita. Memang bukan hanya aku yang bernasib seperti ini.
Hari ini, tepat di ulang tahunku yang ke 17, ayahku dipanggil Yang Kuasa. Ayah dipanggil saat sedang bekerja serabutan sebagai tukang batu di tebing desa sebelah. Tebing batu yang selalu dieksplorasi itu longsor, menimpa beliau dan beberapa rekannya Mungkin tebing itu sudah tak kuat lagi disandari oleh begitu banyaknya orang miskin seperti kami. Ibu dan ketiga adikku menangis sejadi-jadinya. Hanya aku yang kelihatan tegar, padahal hatiku juga menangis. Aku tak mau kelihatan cengeng dan menghianati nama pemberian ayahku. Aku sempat melihat senyum di bibir kaku ayahku, seakan berpesan kepadaku untuk meneruskan perjuangannya demi keluarga. Ya, dengan berpulangnya ayahku otomatis beban keluarga ada di pundakku. Semoga otak bodohku sanggup memberikan jalan keluar masalahku ini. Sebab jika hanya mengandalkan tegar sahabatku ini sungguh sulit untuk menghidupi kami sekeluarga, ditambah lagi sekarang ibuku sakit-sakitan. Belum genap 40 hari sejak kematian ayahku, aku bertekad pergi ke
Aku tiba di kota. Sungguh asing sekali suasana di sini. Tak ada rumput yang harus dibabat, tak ada kerbau yang harus dimandikan, tak ada anak-anak bermain gobak sodor. Orang-orang di sini seakan dikejar waktu, berlari begitu cepat mengejar masa depan yang belum bernama. Orang-orang yang tak sanggup berlari secepat itu, harus rela tersingkir dari persaingan. Orang-orang berdasi itu sepertinya juga tidak melihat manusia-manusia seperti aku. Hanya sedikit yang peduli pada kaum marjinal seperti aku, selebihnya merasa jijik pada kebodohan dan kedekilan pakaian kami. Hidup di kota ternyata sungguh berat. Sudah hampir sebulan aku di sini dan belum juga mendapat kerja. Uang simpananku sudah semakin menipis, ditambah lagi harus membayar uang sewa kamar busuk ini. Sebab, jika tak dibayar aku harus rela diusir oleh pemiliknya dan kemungkinan akan hidup menggelandang. Tak ada gunanya lagi UUD 45 pasal 34 ayat 1 yang menyatakan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Sekarang kegunaan fakir miskin hanyalah sebagai ajang mencari simpati publik saat pemilu maupun saat-saat pemilihan kepala daerah. Orang-orang tengik itu tak benar-benar memperhatikan rakyat miskin. Saat tujuan mereka tercapai, orang-orang seperti kami akan segera dilupakan. Otak bodohku yang semakin bodoh karena kekurangan nutrisi semakin pusing memikirkan beban hidupku. Sial, saat orang-orang marjinal seperti aku ini setengah hidup setengah mati, para penipu berjas semakin gencar saja melakukan aksinya merampok uang negara. Ya, korupsi memang sudah menjadi tradisi di negara bobrok ini. Andai saja mereka tidak korupsi, mungkin saja negara punya uang untuk membangun desa-desa miskin seperti desaku, menciptakan lapangan kerja disana dan aku tak perlu berada di tempat busuk ini bersama para kecoak yang memuakkan. Yang membuat lebih geram lagi, tak jarang mereka menggunakan tameng agama demi kepentingannya semata. Di forum-forum meneriakkan takbir tapi di saat yang lain menerima suap, mark up proyek, dan membuat proposal pengadaan fasilitas fiktif. Bodohnya lagi lembaga pemberantas korupsi di negara ini akan dibubarkan dengan alasan tidak efisien. Ya ampun, mau jadi apa negara ini jika diatur oleh segelintir orang yang sarat dengan kepentingan pribadi? Demokrasi macam apa yang terbentuk? Tak lebih hanya oligarki yang membuat si miskin tambah miskin dan si kaya tambah kaya. Jangan mimpi bisa menjadi macan asia jika sistem macam ini masih bercokol di negara. Tak lama, akupun tertidur di tengah lamunan beratku itu.
Hari ini aku sangat lapar, dan sialnya uangku sudah benar-benar habis. Aku berfikir keras bagaimana cara untuk mengganjal perutku ini. Aku pantang meminta-minta. Dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki, aku berjalan tak tentu arah berharap masih ada sedikit keajaiban untukku. Di pertigaan tak jauh dari kontrakanku, ada seorang pemuda yang dikeroyok oleh 3 orang. Aku segera melesat tak menghiraukan rasa lapar, menerjang bangsat-bangsat pengecut itu. Tanpa banyak bicara ku pukuli dan ku tendangi para bajingan tengik itu. Badanku yang besar dan tegap ini memudahkan aku menghadapi mereka. Orang terakhirpun lari tunggang langgang setelah sebelumnya aku ludahi. Pemuda yang ku tolong tadi berkali-kali mengucapkan terima kasih. Aku segera membantunya berdiri. Pemuda ini keturunan cina, terlihat dari matanya yang sipit dan kulitnya yang putih bersih. Dia mengenalkan dirinya sebagai Aliang. Kemudian akupun diajak ke rumahnya. Ternyata dia anak orang kaya, rumahnya besar dan indah. Banyak pria berseragam hitam di rumah ini. Tak lama akupun dikenalkan kepada ayah Aliang. Ayah Aliang sangat gagah, berwibawa, dan terlihat pemberani dengan wajah keras bercodet. Sekilas aku menerka betapa keras hidup orang ini dulu. Dia bernama Herman liang. Pak Herman berterima kasih kepadaku karena telah menolong anaknya dari anak buah saingannya. Belakangan baru ku tahu jika Pak Herman adalah ketua genk yang cukup disegani di kota ini. Aku diterima dengan baik di sini. Bahkan aku tak perlu lagi kembali ke kamar kontrakanku yang memuakkan. Setahun sudah aku di sini. Sekarang aku aktif sebagai bagian dari genk Golok pimpinan Pak Herman. Aku sudah begitu akrab dengan dunia hitam. Berjudi, menyelundupkan narkoba, perang antar genk, menjaga lokalisasi sekaligus menikmati tubuh gadis-gadis belia adalah pekerjaan sehari-hariku. Tak jarang kami juga ditugaskan untuk menjaga keselamatan bos-bos besar dari incaran musuh-musuhnya. Aku sudah lupa dengan Tuhan, tak pernah lagi aku menyebut namanya dalam hidupku ini, tak pernah lagi bersujud menyembahnya. Ternyata memang benar jika kemiskinan selalu dekat dengan kekufuran.
Di sebuah kampung, terlihat seorang ibu dan 2 anaknya bercengkrama. Rumah mereka kini tak lagi bobrok. Penampilan mereka juga tak lagi dekil. Mereka tertawa lepas menikmati siaran televisi yang dulu sama sekali tidak mereka kenal. Mereka adalah ibu dan adik-adiku. Uang yang selalu aku kirimkan tiap bulan agaknya mampu merubah kehidupan mereka. Kini adik-adiku bisa bersekolah, ibuku membuka warung kelontong di depan rumah. Keluargaku di kampung tak lagi dipandang sebelah mata. Orang-orang kampung megelu-elukan aku sebagai pemuda sukses yang mampu membalikan nasib. Banyak pemuda-pemuda kampung yang terinspirasi olehku dan merantau ke kota, berharap bisa sukses seperti aku. Entah apa yang akan terjadi seandainya mereka tahu siapa sebenarnya diriku ini. Aku mengaku bekerja sebagai mekanik di bengkel ternama kepada keluargaku. Untungnya mereka tak pernah banyak tanya dan percaya saja. Yang penting bagi mereka adalah anaknya sukses dan mampu mengangkat derajat keluarga.
”Hei bangsat!!!! Jangan lari kau!!!! Teriak para cecunguk di belakangku. Aku terus berlari seperti orang kesetanan. Aku tak boleh mati. Bagaimana nasib keluargaku di kampung jika aku meninggalkan mereka? Hari ini aku sungguh sial, bertemu dengan musuh-musuhku saat aku sendirian. Jika saja jumlah kami seimbang, tentu saja aku tak akan merendahkan diri dengan berlari seperti ini. Pelacur yang sakit hati padaku bersekongkol dengan musuhku supaya aku binasa. Pelacur laknat itu mengundangku ke tempatnya, dengan syarat aku berangkat sendirian. Katanya ada persoalan penting yang harus dibicarakan. Aku yang tak curiga sedikitpun meluluskan saja permintaannya. Barangkali dia mau membicarakan tentang penolakan cinta yang kulakukan terhadapnya tempo hari. Bah, biarpun aku jahanam, tapi dalam memilih pasangan aku masih memiliki idealisme. Aku berharap suatu saat tak lagi seperti ini dan bisa memperistri seorang wanita baik-baik, bukan pelacur seperti dia. Bruk..ah, sial..aku tersandung..terguling-guling. Tak lama mereka datang sambil berteriak ” bangsat, mampus saja kau!!” Akh..sabetan parang mengoyak dadaku. Aku mengaduh kesakitan. Darah mengalir deras tak terbendung. Kali ini tegar tak bisa berbuat apa-apa. Dia tak bersamaku. Sahabat yang telah kugunakan untuk menebas puluhan cecunguk seperti mereka ini lupa tidak aku bawa. Tadi sore setelah kumandikan karena banyak noda darah setelah beraksi di siang harinya, tegar ku geletakan begitu saja di atas meja kamarku. Pandanganku semakin gelap. Lagi-lagi sabetan parang menyabet tubuhku. Kali ini mengenai bagian perutku. Aku sekarat, menunggu jemputan malaikat maut. Tak lama, aku melihat tubuhku sendiri tergeletak di pinggir jalanan yang gelap, bersimbah darah. Cecunguk-cecunguk itu telah pergi meninggalkan aku. Tak ada satupun yang berani menghampiri. Mereka menganggap aku ini bangkai yang tak perlu diperhatikan. Aku sangat sedih. Bagaimana nasib ibu dan 2 adiku di kampung? Bagaimana kelanjutan sekolah adik-adiku? Semoga warung kelontong kecil yang dimiliki ibuku bisa mencukupi semua kebutuhan mereka. Kali ini aku mati, benar-benar mati. Negara sedikit bernafas lega telah kehilangan salah satu penghambat pembangunan. Aku berharap para bajingan kelas kakap yang biasa mencuri uang negara mati juga seperti aku. Dengan begitu untuk ke depannya tak ada lagi orang-orang seperti aku yang mati akibat kesalahan sistemik negara bobrok ini. Aku juga berharap tak ada lagi maling ayam, copet, dan sebangsanya yang mati sia-sia terkubur impian yang sebenarnya bagi sebagian orang mudah saja untuk mewujudkannya. Tak lama kemudian, munculah bayangan hitam tinggi besar. Ah, celaka…..sebentar lagi aku akan menghadapi hukuman karena melupakan Tuhan. Tak ada gunanya lagi menyumpah serapahi negara yang membuat aku seperti ini.