By: Alnada
Jangan hitung hari2mu dengan lentik jemarimu. Hitunglah setiap putaran waktu dgn goresan pena tanganmu. Apa yg kau berikan untuk masa kehidupanmu. Apa yg kau torehkan untuk cita citamu? Anakku.. Jgn pernah brtanya apa yg kau dapatkan, namun brtanyalah apa yg pernah kau berikan semenjak kau mengerti kehidupan? Jika ingin menapaki,jelajahi cakrawala cita. Pergilah dr kampung halaman,pergilah jauh menembus belantara keraguan. Jati dirimu ada dalam hati. Keyakinan yg selama ini kau pupuk, takkan bisa terangkai seketika. Teruslah berusaha, usah dirimu berhenti sekedar meratapi. Anakku... Dimana ada ketinggian, di dekatnya kan bersanding hamparan datar luas terbentang. Dakilah karna dirimu kan melihat lukisan indah hamparan kehidupan. Anakku... Jika kemenangan tlh kau dapat, janganlah menganggap dirimu paling hebat. Jagalah hatimu dari kesombongan atas kebaikan yg tlh kau perbuat. Ingatlah penuh kerendahan,rasakan penuh kearifan. Seorang pejuang sejati,tak akan memikirkan hasil, namun yg dipikirkan apa yg tlh diperbuat,apa yg tlh dilakukan. Bukan apa yg sudah dihasilkan. Atas rasa kemanusiaan itu yang harus kau mengerti.
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Minggu, Oktober 18
(Renungan) Cinta dan Nafsu
Ole: Kazuyago (Hikmawan Ali Nova)
Hm, aku bikin posting ini karena tergelitik oleh topik di interforum Prodigits yang judulnya *Cinta atau Nafsu*, by Enday. Di sana disebutkan kalo pacaran itu lebih ke nafsu. Aq cenderung setuju sama pendapat itu. Kenapa? Karena melihat orang-orang sekarang yang menjadikan pacaran sebagai sarana untuk melampiaskan nafsunya belaka. Entah itu ciuman, petting, sampai (maaf) intercourse. SANGAT JARANG SEKALI pacaran tanpa melakukan salah satu dari ketiga hal tersebut. Berarti aq juga melakukan itu dong? Biar itu jadi rahasia antara aq, dia dan Tuhan :D :D.
Tapi bukan itu yang pengen aq bahas. Disini aq pengen memberikan satu ilustrasi tentang betapa kita sebagai manusia telah mengabaikan arti cinta dan dengan bodoh mencampakkanya dengan nafsu. Ilustrasi berupa poin per poin aja ya:
1. Cinta itu anugerah, namun nafsu telah membuat anugerah itu menjadi bencana.
2. Cinta itu indah, namun nafsu membuatnya menjadi kelam melalui penyesalan dan keburukan.
3. Cinta itu agung, namun nafsu membuatnya menjadi hitam dan penuh dosa.
4. Cinta itu bahagia, namun nafsu membuatnya menjadi penuh air mata dan benci.
5. Cinta itu surga, namun nafsu menjerumuskannya menuju neraka.
6. Cinta itu luar biasa, tapi nafsu membuatnya menjadi lemah dan terkoyak.
7. Cinta itu manis, tapi nafsu membuatnya pahit.
8. Cinta itu gemerlap, tapi nafsu membuatnya memudar dan kusam.
9. Cinta itu setia, tapi nafsu membuatnya berpaling dengan mudahnya.
10. Cinta itu tak ternilai, tapi sayangnya nafsu dengan mudah membuatnya menjadi tak ada harganya.
11. Cinta itu penuh kasih, tapi nafsu membuatnya menjadi penuh iri, dengki, dan dendam.
12. Cinta itu abadi, tapi nafsu membuatnya hanya menjadi pelampiasan sesaat.
Maaf, aq bukannya ingin menggurui, tapi semata hanya merupakan pengamatanku saja. Semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih menghargai cinta.
Cheers!
Hm, aku bikin posting ini karena tergelitik oleh topik di interforum Prodigits yang judulnya *Cinta atau Nafsu*, by Enday. Di sana disebutkan kalo pacaran itu lebih ke nafsu. Aq cenderung setuju sama pendapat itu. Kenapa? Karena melihat orang-orang sekarang yang menjadikan pacaran sebagai sarana untuk melampiaskan nafsunya belaka. Entah itu ciuman, petting, sampai (maaf) intercourse. SANGAT JARANG SEKALI pacaran tanpa melakukan salah satu dari ketiga hal tersebut. Berarti aq juga melakukan itu dong? Biar itu jadi rahasia antara aq, dia dan Tuhan :D :D.
Tapi bukan itu yang pengen aq bahas. Disini aq pengen memberikan satu ilustrasi tentang betapa kita sebagai manusia telah mengabaikan arti cinta dan dengan bodoh mencampakkanya dengan nafsu. Ilustrasi berupa poin per poin aja ya:
1. Cinta itu anugerah, namun nafsu telah membuat anugerah itu menjadi bencana.
2. Cinta itu indah, namun nafsu membuatnya menjadi kelam melalui penyesalan dan keburukan.
3. Cinta itu agung, namun nafsu membuatnya menjadi hitam dan penuh dosa.
4. Cinta itu bahagia, namun nafsu membuatnya menjadi penuh air mata dan benci.
5. Cinta itu surga, namun nafsu menjerumuskannya menuju neraka.
6. Cinta itu luar biasa, tapi nafsu membuatnya menjadi lemah dan terkoyak.
7. Cinta itu manis, tapi nafsu membuatnya pahit.
8. Cinta itu gemerlap, tapi nafsu membuatnya memudar dan kusam.
9. Cinta itu setia, tapi nafsu membuatnya berpaling dengan mudahnya.
10. Cinta itu tak ternilai, tapi sayangnya nafsu dengan mudah membuatnya menjadi tak ada harganya.
11. Cinta itu penuh kasih, tapi nafsu membuatnya menjadi penuh iri, dengki, dan dendam.
12. Cinta itu abadi, tapi nafsu membuatnya hanya menjadi pelampiasan sesaat.
Maaf, aq bukannya ingin menggurui, tapi semata hanya merupakan pengamatanku saja. Semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih menghargai cinta.
Cheers!
Jumat, Oktober 16
LELAKI ITU TEMANKU
Peluit itu tak pernah lepas dari genggamannya. Peluhnya yang mengalir deras tak pernah ia hiraukan. Wajahnya memang masih seperti dulu, namun sepertinya nasib kurang bersahabat dengannya kali ini. Pertama melihatnya aku setengah tak percaya...berikutnya hanya sesak yang kurasa. Seragam putih abu2 kalian mungkin terlalu indah bila disandingkan dengan sosoknya. Tapi dia tak peduli. Dia terus menemani motor berdebu kalian di terik siang. Pernahkah kalian berpikir bahwa lelaki itu pernah berseragam seperti kalian? Lelaki itu juga pernah bermimpi..mimpi yang sama dengan kalian. Kenapa aku bisa tahu hal itu? Tak lain karena dia adalah temanku. Teman yang berjuang bersama dengan seragam biru putih beberapa tahun lalu. Bila kalian berjumpa dengannya, katakan padanya untuk bersabar..doaku slalu padanya, smoga Tuhan mewujudkan mimpi2nya kelak.
Senin, Oktober 12
PENIPUAN DI ISTANA
Sejumlah ilmuwan menilai Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) 'tertipu' dalam kasus blue energy (energi biru). Seorang pria asal Nganjuk, Joko Suprapto, mengaku bisa memproduksi minyak mentah dari air. Dari biang minyak itu bisa dihasilkan bahan bakar sekelas minyak tanah hingga avtur.
Presiden SBY yakin itu merupakan sumbangan Indonesia bagi dunia, di tengah makin meroketnya harga minyak. Sementara, negara dibikin pusing tujuh keliling oleh dampak dari kenaikan itu. Karuan saja, sejumlah pihak, termasuk para ilmuwan, menyesalkan informasi yang belum valid bisa diterima oleh SBY. Kabarnya Joko kini dilaporkan ke polisi.
Penipu 'masuk Istana' ternyata punya sejarah yang cukup panjang. Baiklah kita mulai pada tahun 1950-an, pada masa pemerintah Presiden Soekarno. Ada seseorang yang mengaku Raja Kubu -- suku anak dalam di Jambi. Tidak tanggung-tanggung, dia memberi gelar dirinya Raja Idrus dan istrinya Ratu Markonah.
Pasangan 'suami istri' itu, entah bagaimana prosesnya, mendapat pemberitaan pers, termasuk foto-foto keduanya. Maka, sejumlah pejabat negara memberikan penghormatan luar biasa pada 'raja' dan 'ratu' tersebut.
Rupanya ada seorang pejabat yang menghubungi Presiden Soekarno dan kemudian memperkenalkannya. Di Istana, 'suami-istri' yang sebenarnya adalah penarik becak dan pelacur itu sempat diterima sebagai tamu kehormatan di Istana Merdeka. Mereka juga diberi uang, menginap dan makan gratis di hotel-hotel mewah. Termasuk mengunjungi Kraton Yogyakarta dan Surakarta.
Kedok penipuan mereka terbongkar saat berjalan-jalan di Jakarta. Ada seorang tukang becak yang mengenali 'Raja' Idrus, teman seprofesinya di Tegal. Sedang sang 'maharani' juga terbongkar berprofesi sebagai pelacur kelas bawah di kota yang sama. Konon, keduanya bertemu di sebuah warung kopi di Tegal. Kemudian sepakat untuk menjalankan aksi
penipuan itu. Keistimewaan Markomah selalu memakai kaca mata hitam baik siang maupun malam. Rupanya sebelah matanya picek.
Pada masa Soeharto, di era 1970-an, juga ter
jadi penipu k
elas kakap. Penipunya bernama Cut Zahara Fona, asal Aceh. Meski tidak tamat SD, dia memiliki ide jenius. Dia, yang selalu mengenakan kain batik, mengklaim bahwa janin yang ada diperutnya bisa berbicara dan mengaji.
Karuan saja, kabar itu menggegerkan masyarakat, apalagi diberitakan secara luas di surat kabar dan majalah. Konon, tiras sebuah harian ibukota terdongkrat naik, karena tiap hari membuat berita tentang 'bayi ajaib' di perut Cut Zahara.
Masyarakat yang banyak berdatangan pun rela untuk nguping di perutnya yang dilapisi kain untuk mendengar 'bayi ajaib' itu berbicara atau mengaji. Bukan hanya rakayat biasa, ada juga pejabat yang meyakininya. Termasuk Wakil Presiden Adam Malik yang mengundang Cut Zahara ke Istana Wapres. Bahkan, Menteri Agama KH Mohamad Dachlan termasuk orang yang meyakininya. Untuk meyakininya, ia menyatakan bahwa Imam Syafi'ie selama tiga tahun berada di kandungan ibunya.
Cut Zahara Fona dan suaminya pernah diperkenalkan oleh Sekdalopbang (Sekretaris Pengendalian Pembangunan) Bardosono kepada Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto. Perkenalan ini dilakukan di Bandara Kemayoran setelah keduanya tiba dari lawatan luar negeri. Tapi, rupanya Ibu Tien termasuk orang yang kurang yakin terhadap 'bayi ajaib'-nya Cut Zahara Fona. Apalagi wanita Aceh itu menolak ketika hendak diperiksa di RSCM.
Konon, Ibu Tienlah yang menggeledah dan mendapatkan bahwa bicara dan mengaji itu hanya berasal dari tape recorder kecil yang disisipkan di perut Cut Zahara. Kala itu memang belum banyak perekam suara sekecil milik Cut.
Meskipun kedoknya terbongkar, 'bayi ajaib' tersebut bukan hanya mendapat perhatian masyarakat Indonesia, tapi juga dunia internasional. Hingga ada permintaan dari Pakistan agar Cut dan suaminya berkunjung ke sana. Bahkan, ada yang meramal 'bayi ajaib' itu, bila lahir akan menjadi Imam Mahdi.
Setelah tidak terdenga
r kasus Istana pada masa Presiden BJ Habibie, yang memang pendek masa jabatannya, pada masa Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) kembali terjadi penipuan yang meng
aitkan Istana Negara. Pelakunya adalah Soewondo, yang biasa keluar masuk Istana karena jadi tukang pijat Gus Dur.
Orang yang dianggap 'dekat' dengan orang nomor satu di Indonesia itu berhasil menipu Yayasan Dana Kesejateraan Karyawan (Yanatera) Badan Urusan Logistik (BULOG) dan dituduh membobol uang yayasan hingga Rp 35 miliar. Soewondo sempat kabur, namun kemudian ditangkap polisi di kawasan Puncak, Jawa Barat. Pengadilan memvonisnya 3,5 tahun penjara.
Kasus tersebut sempat menyita perhatian khalayak dan menjadi senjata pamungkas bagi lawan-lawan politik Gus Dur, yang membantah telah memerintahkan pencarian dana itu. Namun, akhirnya Gus Dur lengser juga dari jabatannya gara-gara kasus yang dikenal dengan istilah Buloggate tersebut.
Pada masa Presiden Megawati, skandal 'penipuan' kembali terjadi. Kali ini yang diperdaya adalah Menteri Agama Kiai Said Agil Almunawar. Menteri yang bergelar profesor dan hafidz Alquran ini memimpin penggalian situs di Batutulis Bogor yang diyakini memendam harta karun yang nilainya dapat untuk membayar seluruh utang negara.
Menurut Said Agil, Presiden Megawati mengetahui rencana penggalian situs bersejarah yang konon peninggalan Kerajaan Pajajaran itu. Sayangnya, harta karun yang dicari hanya pepesan kosong. Said Agil sendiri kini masih ditahan dalam kasus tuduhan korupsi uang haji.
Moga-moga penghuni Istana yang menjadi lambang kebanggaan bangsa, negara dan rakyat Indonesia, itu tidak lagi menjadi korban penipuan. Sumber: imzers
Presiden SBY yakin itu merupakan sumbangan Indonesia bagi dunia, di tengah makin meroketnya harga minyak. Sementara, negara dibikin pusing tujuh keliling oleh dampak dari kenaikan itu. Karuan saja, sejumlah pihak, termasuk para ilmuwan, menyesalkan informasi yang belum valid bisa diterima oleh SBY. Kabarnya Joko kini dilaporkan ke polisi.
Penipu 'masuk Istana' ternyata punya sejarah yang cukup panjang. Baiklah kita mulai pada tahun 1950-an, pada masa pemerintah Presiden Soekarno. Ada seseorang yang mengaku Raja Kubu -- suku anak dalam di Jambi. Tidak tanggung-tanggung, dia memberi gelar dirinya Raja Idrus dan istrinya Ratu Markonah.
Pasangan 'suami istri' itu, entah bagaimana prosesnya, mendapat pemberitaan pers, termasuk foto-foto keduanya. Maka, sejumlah pejabat negara memberikan penghormatan luar biasa pada 'raja' dan 'ratu' tersebut.
Rupanya ada seorang pejabat yang menghubungi Presiden Soekarno dan kemudian memperkenalkannya. Di Istana, 'suami-istri' yang sebenarnya adalah penarik becak dan pelacur itu sempat diterima sebagai tamu kehormatan di Istana Merdeka. Mereka juga diberi uang, menginap dan makan gratis di hotel-hotel mewah. Termasuk mengunjungi Kraton Yogyakarta dan Surakarta.
Kedok penipuan mereka terbongkar saat berjalan-jalan di Jakarta. Ada seorang tukang becak yang mengenali 'Raja' Idrus, teman seprofesinya di Tegal. Sedang sang 'maharani' juga terbongkar berprofesi sebagai pelacur kelas bawah di kota yang sama. Konon, keduanya bertemu di sebuah warung kopi di Tegal. Kemudian sepakat untuk menjalankan aksi
penipuan itu. Keistimewaan Markomah selalu memakai kaca mata hitam baik siang maupun malam. Rupanya sebelah matanya picek.
Pada masa Soeharto, di era 1970-an, juga ter
jadi penipu k
elas kakap. Penipunya bernama Cut Zahara Fona, asal Aceh. Meski tidak tamat SD, dia memiliki ide jenius. Dia, yang selalu mengenakan kain batik, mengklaim bahwa janin yang ada diperutnya bisa berbicara dan mengaji.
Karuan saja, kabar itu menggegerkan masyarakat, apalagi diberitakan secara luas di surat kabar dan majalah. Konon, tiras sebuah harian ibukota terdongkrat naik, karena tiap hari membuat berita tentang 'bayi ajaib' di perut Cut Zahara.
Masyarakat yang banyak berdatangan pun rela untuk nguping di perutnya yang dilapisi kain untuk mendengar 'bayi ajaib' itu berbicara atau mengaji. Bukan hanya rakayat biasa, ada juga pejabat yang meyakininya. Termasuk Wakil Presiden Adam Malik yang mengundang Cut Zahara ke Istana Wapres. Bahkan, Menteri Agama KH Mohamad Dachlan termasuk orang yang meyakininya. Untuk meyakininya, ia menyatakan bahwa Imam Syafi'ie selama tiga tahun berada di kandungan ibunya.
Cut Zahara Fona dan suaminya pernah diperkenalkan oleh Sekdalopbang (Sekretaris Pengendalian Pembangunan) Bardosono kepada Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto. Perkenalan ini dilakukan di Bandara Kemayoran setelah keduanya tiba dari lawatan luar negeri. Tapi, rupanya Ibu Tien termasuk orang yang kurang yakin terhadap 'bayi ajaib'-nya Cut Zahara Fona. Apalagi wanita Aceh itu menolak ketika hendak diperiksa di RSCM.
Konon, Ibu Tienlah yang menggeledah dan mendapatkan bahwa bicara dan mengaji itu hanya berasal dari tape recorder kecil yang disisipkan di perut Cut Zahara. Kala itu memang belum banyak perekam suara sekecil milik Cut.
Meskipun kedoknya terbongkar, 'bayi ajaib' tersebut bukan hanya mendapat perhatian masyarakat Indonesia, tapi juga dunia internasional. Hingga ada permintaan dari Pakistan agar Cut dan suaminya berkunjung ke sana. Bahkan, ada yang meramal 'bayi ajaib' itu, bila lahir akan menjadi Imam Mahdi.
Setelah tidak terdenga
r kasus Istana pada masa Presiden BJ Habibie, yang memang pendek masa jabatannya, pada masa Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) kembali terjadi penipuan yang meng
aitkan Istana Negara. Pelakunya adalah Soewondo, yang biasa keluar masuk Istana karena jadi tukang pijat Gus Dur.
Orang yang dianggap 'dekat' dengan orang nomor satu di Indonesia itu berhasil menipu Yayasan Dana Kesejateraan Karyawan (Yanatera) Badan Urusan Logistik (BULOG) dan dituduh membobol uang yayasan hingga Rp 35 miliar. Soewondo sempat kabur, namun kemudian ditangkap polisi di kawasan Puncak, Jawa Barat. Pengadilan memvonisnya 3,5 tahun penjara.
Kasus tersebut sempat menyita perhatian khalayak dan menjadi senjata pamungkas bagi lawan-lawan politik Gus Dur, yang membantah telah memerintahkan pencarian dana itu. Namun, akhirnya Gus Dur lengser juga dari jabatannya gara-gara kasus yang dikenal dengan istilah Buloggate tersebut.
Pada masa Presiden Megawati, skandal 'penipuan' kembali terjadi. Kali ini yang diperdaya adalah Menteri Agama Kiai Said Agil Almunawar. Menteri yang bergelar profesor dan hafidz Alquran ini memimpin penggalian situs di Batutulis Bogor yang diyakini memendam harta karun yang nilainya dapat untuk membayar seluruh utang negara.
Menurut Said Agil, Presiden Megawati mengetahui rencana penggalian situs bersejarah yang konon peninggalan Kerajaan Pajajaran itu. Sayangnya, harta karun yang dicari hanya pepesan kosong. Said Agil sendiri kini masih ditahan dalam kasus tuduhan korupsi uang haji.
Moga-moga penghuni Istana yang menjadi lambang kebanggaan bangsa, negara dan rakyat Indonesia, itu tidak lagi menjadi korban penipuan. Sumber: imzers
BERANI MENCOBA
Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. "Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?" "Ha?," kata jam terperanjat, "Mana sanggup saya?" "Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?"
"Delapan puluh ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?" jawab jam penuh keraguan.
"Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?" "Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu" tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya. Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam, "Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?" "Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!" kata jam dengan penuh antusias.
Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali
Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita teryata mampu. Bahkan yang semula kita anggap impossible untuk dilakukan sekalipun. Jangan berkata "tidak" sebelum Anda pernah
mencobanya Ada yang mengukur hidup mereka dari hari dan tahun, yang lain dengan denyut
jantung, gairah, dan air mata. Tetapi ukuran sejati di bawah mentari adalah apa yang telah engkau lakukan dalam hidup ini untuk orang lain.
Sumber : Milis Motivasi
"Delapan puluh ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?" jawab jam penuh keraguan.
"Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?" "Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu" tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya. Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam, "Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?" "Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!" kata jam dengan penuh antusias.
Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali
Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita teryata mampu. Bahkan yang semula kita anggap impossible untuk dilakukan sekalipun. Jangan berkata "tidak" sebelum Anda pernah
mencobanya Ada yang mengukur hidup mereka dari hari dan tahun, yang lain dengan denyut
jantung, gairah, dan air mata. Tetapi ukuran sejati di bawah mentari adalah apa yang telah engkau lakukan dalam hidup ini untuk orang lain.
Sumber : Milis Motivasi
CARA MEMANDANG
Ketika masih duduk di bangku SD, aku terlibat dalam perdebatan sengit dengan seorang teman di kelasku. Aku sudah lupa apa topik perdebatan kami, tetapi aku tidak lupa pelajaran yang kuperoleh hari itu.
Aku yakin sekali bahwa akulah yang benar, sedangkan ia salah. Sebaliknya, ia juga yakin bahwa ia yang benar dan aku yang salah. Maka guru kami memutuskan untuk memberikan pelajaran yang sangat penting. Ia menyuruh kami maju ke depan kelas. Aku berdiri di satu sisi meja, sementara temanku duduk di sisi yang lain. Di tengah meja ada satu obyek besar dan bundar. Aku melihat dengan jelas bahwa benda tersebut berwarna hitam.
Lalu guru kami bertanya pada anak itu, apa warna benda tsb. "Putih", sahutnya. Aku tak percaya mendengarnya, sebab benda itu jelas-jelas berwarna hitam. Kami kembali berdebat dengan sengit, kali ini tentang warna benda tersebut.
Guru kami kemudian menyuruhku berdiri di tempat anak tadi, sementara anak tadi berdiri di tempatku. Kami bertukar tempat, dan sekarang guru kami bertanya kepadaku, apa warna benda itu. Aku terpaksa menjawab, "Putih", sebab benda tersebut memang mempunyai dua sisi yang berbeda warna. Dari sudut ini, warna yang kelihatan adalah putih, sedangkan dari sisi yang lain warnanya hitam.
Hari itu aku mendapat pelajaran penting. Kita mesti bisa menempatkan diri pada posisi orang lain dan melihat situasinya melalui mata mereka supaya kita bisa benar-benar memahami perspektif mereka.
Guru adalah mereka yang menjadikan diri mereka jembatan. Para murid diundang untuk menyeberanginya. Setelah semua menyeberang, dengan senang hati mereka mengundurkan diri dan mendorong para murid untuk menciptakan jembatan tersebut. Sumber: milis motivasi
Aku yakin sekali bahwa akulah yang benar, sedangkan ia salah. Sebaliknya, ia juga yakin bahwa ia yang benar dan aku yang salah. Maka guru kami memutuskan untuk memberikan pelajaran yang sangat penting. Ia menyuruh kami maju ke depan kelas. Aku berdiri di satu sisi meja, sementara temanku duduk di sisi yang lain. Di tengah meja ada satu obyek besar dan bundar. Aku melihat dengan jelas bahwa benda tersebut berwarna hitam.
Lalu guru kami bertanya pada anak itu, apa warna benda tsb. "Putih", sahutnya. Aku tak percaya mendengarnya, sebab benda itu jelas-jelas berwarna hitam. Kami kembali berdebat dengan sengit, kali ini tentang warna benda tersebut.
Guru kami kemudian menyuruhku berdiri di tempat anak tadi, sementara anak tadi berdiri di tempatku. Kami bertukar tempat, dan sekarang guru kami bertanya kepadaku, apa warna benda itu. Aku terpaksa menjawab, "Putih", sebab benda tersebut memang mempunyai dua sisi yang berbeda warna. Dari sudut ini, warna yang kelihatan adalah putih, sedangkan dari sisi yang lain warnanya hitam.
Hari itu aku mendapat pelajaran penting. Kita mesti bisa menempatkan diri pada posisi orang lain dan melihat situasinya melalui mata mereka supaya kita bisa benar-benar memahami perspektif mereka.
Guru adalah mereka yang menjadikan diri mereka jembatan. Para murid diundang untuk menyeberanginya. Setelah semua menyeberang, dengan senang hati mereka mengundurkan diri dan mendorong para murid untuk menciptakan jembatan tersebut. Sumber: milis motivasi
Minggu, Oktober 11
STOP BERPRASANGKA!!
By: mat_peci
Prasangka atau prejudice, bikin sensi mningkat, bikin emosi gampang tersulut, and the end bikin konflik dimana-mana. Terkhusus di sebuah forum nun disana yg menyebabkan turunnya tulisan ini, upss..! Cepet distop sebelum terlambat! *Serba susah emang kalo kita ngebahas soal yg 1 ini. Abis, berprasangka kayaknya udah jadi 'kodrat' stiap orang. Survei membuktikan bahwa meski hati kecil berusaha meluruskan pikiran, tetep aja suara-suara sumbang disekitar lebih punya power buat ngebengkokin isi otak. Klimaks dari semua prasangka yg ada, sering kali berujung pada slek, atau..minimal makan hati sendiri. Musuh or orang yg dianggap musuh pun kian hari kian bertambah, smentara kita makin terkurung dengan ego yg size-nya bertambah gede karna terus-terusan dibisikin sebuah suara, 'Lo yang bener, mereka yg salah!'. Waaaa, ancur deh dunia pergaulan! Bisa-bisa jadi public enemy nomer satu. Bagus kalo cuma disumpehin rame-rame. Lha kalo sampe memancing niat jahat orang2, gimana?..Udahlah! Daripada hidup jadi susah, mending kita baca sebentar apa kata seseorang tentang tips-tips buat ngilangin kebiasaan berprasangka: 1. BELAJAR NGERTI PERBEDAAN. Kita pasti udah tau kalo didunia ini nggak ada satupun manusia yg sama. Nggak fisik, apalagi isi otak..dan hatinya. Cuma masalahnya, kita suka 'lupa' aja kalo setiap orang itu unik dan berbeda 1 dgn yg lainnya. Jal, nggak ada yg salah dgn perbedaan. Makanya perbedaan nggak perlu dirubah. Ntu selama nggak ngerugiin or membahayakan keselamatan jiwa pribadi dan org lain. Perbedaan kita dgn temen atw orang lain justru bakal bikin hari2 kita lebih meriah dan seru. So, just accept it and let everybody know that you recognize and appreciate their individual qualities! 2. BECOME SENSITIVE TO OTHER PEOPLE'S FEELINGS. Siapa sih yg nggak bakal tersinggung kalo dicap yang nggak-nggak? Siapa juga yg seneng kalo dirinya dianggap 'alien'? Nggak ada! Walopun kenyataannya nggak semua orang bisa nerima jalan pikiran atau keputusan yg diambil oleh orang lain, tapi setiap orang selalu pengen dipahami jalan pikiran dan keputusannya kan? Itu sebabnya sebelum nge-judge, coba deh ngeliat dari sudut pandang orang yang mau kita judge itu. 3.PRASANGKA ITU NGGAK FAIR! Yap, prasangka mostly bakal menyebabkan salah satu pihak merasa terintimidasi bahkan tertindas. Apalagi umumnya prasangka itu muncul karna adanya perbedaan yg sangat prinsip, yg mungkin aja nggak diniatin oleh seseorang yg berbeda tadi. Contohnya perbedaan agama, etnik, status, ekonomi, jenis kelamin,..bla..bla..bla. Nah, kalo gara-gara perbedaan yg kayak gitu terus dicap yg nggak-nggak, jelas nggak fair, bro! 4. TEACH OUR FRIENDS TO RESPECT AND APPRECIATE DIFFRENCES. Yah, bukannya sok tua sih. Tapi idealnya semua orang emang harus sama-sama belajar buat ngerti dan nerima perbedaan. Nggak bisalah cuma kita sendiri yg mau belajar hal itu, sementara temen-temen yg lain nggak mau. Soalnya pada akhirnya nanti kita juga jadi terintimidasi oleh sikap mereka. Pertanyaannya, gimana cara ngajarinnya? Pertama, kita harus berani nunjukin perbedaan diri sendiri ke mereka. Awalnya mungkin temen-temen nggak bisa nerima, tapi kita nggak boleh gentar. Tunjukin terus perbedaan itu sampe akhirnya mereka bisa ngerti alasan kenapa kita begitu. Toh, meski berbeda bukan berarti kita nggak bisa berteman kan? Kedua, kalo ada temen yg komplain sama perbedaan yg kita miliki atw komplain dgn perbedaan yg dimiliki oleh temen lain, coba beri dia pengertian. Ingetin bahwa yg terpenting dari sum1 adalah apa yg ada didalam dirinya, bukan apa yg tampak di luar dirinya. Maksudnya, gimana niat tuh orang, gimana perhatian tuh orang, sejauh mana tuh orang menghargai komitmen untuk bertemen..dll. 5. JANGAN GAMPANG TERBAWA PANDANGAN STEREOTYPE. Jal, segoblog-goblognya orang, otaknya tetep bisa diajak berfikir dong? Artinya, meski mungkin nyerepnya lama aka lemot, tapi pada akhirnya tetep bisa memilah mana yg bener dan mana yg nggak. Jadi, kalo tiba-tiba kita ngedenger suara-suara sumbang tentang seseorang atau sesuatu, ya jangan buru-buru ngedepanin perasa'an..laah. Dicek dulu ke sumbernya langsung, atw minimal dikritisi dulu.. (cie' elaaah:) bener nggak sih? Mungkin nggak sih? Lha, kalo belum melakukan 'investigasi' apa-apa udah langsung percaya, waaaa...,. Apa bedanya otak kita sama otak udang? 6. BERGAUL..., BERGAUL..., BERGAUL! Makin luas pergaulan kita, makin banyak orang yg berbeda dengan kita yg bakal kita temuin. ***Sumber: ayu, 8 mei 06. ***Sumber lain mengatakan: 'Tidak bergaul menyebabkan hidup seperti kura-kura. Makan dan minum ditempat yg aman, bersembunyi di tempat hebat. Jika kamu mengetuk atau memasukan jarimu ke dalam cangkangnya, mereka sering kali menggigit bahkan menyerangmu' obe, sekarang 09, hehe..
Prasangka atau prejudice, bikin sensi mningkat, bikin emosi gampang tersulut, and the end bikin konflik dimana-mana. Terkhusus di sebuah forum nun disana yg menyebabkan turunnya tulisan ini, upss..! Cepet distop sebelum terlambat! *Serba susah emang kalo kita ngebahas soal yg 1 ini. Abis, berprasangka kayaknya udah jadi 'kodrat' stiap orang. Survei membuktikan bahwa meski hati kecil berusaha meluruskan pikiran, tetep aja suara-suara sumbang disekitar lebih punya power buat ngebengkokin isi otak. Klimaks dari semua prasangka yg ada, sering kali berujung pada slek, atau..minimal makan hati sendiri. Musuh or orang yg dianggap musuh pun kian hari kian bertambah, smentara kita makin terkurung dengan ego yg size-nya bertambah gede karna terus-terusan dibisikin sebuah suara, 'Lo yang bener, mereka yg salah!'. Waaaa, ancur deh dunia pergaulan! Bisa-bisa jadi public enemy nomer satu. Bagus kalo cuma disumpehin rame-rame. Lha kalo sampe memancing niat jahat orang2, gimana?..Udahlah! Daripada hidup jadi susah, mending kita baca sebentar apa kata seseorang tentang tips-tips buat ngilangin kebiasaan berprasangka: 1. BELAJAR NGERTI PERBEDAAN. Kita pasti udah tau kalo didunia ini nggak ada satupun manusia yg sama. Nggak fisik, apalagi isi otak..dan hatinya. Cuma masalahnya, kita suka 'lupa' aja kalo setiap orang itu unik dan berbeda 1 dgn yg lainnya. Jal, nggak ada yg salah dgn perbedaan. Makanya perbedaan nggak perlu dirubah. Ntu selama nggak ngerugiin or membahayakan keselamatan jiwa pribadi dan org lain. Perbedaan kita dgn temen atw orang lain justru bakal bikin hari2 kita lebih meriah dan seru. So, just accept it and let everybody know that you recognize and appreciate their individual qualities! 2. BECOME SENSITIVE TO OTHER PEOPLE'S FEELINGS. Siapa sih yg nggak bakal tersinggung kalo dicap yang nggak-nggak? Siapa juga yg seneng kalo dirinya dianggap 'alien'? Nggak ada! Walopun kenyataannya nggak semua orang bisa nerima jalan pikiran atau keputusan yg diambil oleh orang lain, tapi setiap orang selalu pengen dipahami jalan pikiran dan keputusannya kan? Itu sebabnya sebelum nge-judge, coba deh ngeliat dari sudut pandang orang yang mau kita judge itu. 3.PRASANGKA ITU NGGAK FAIR! Yap, prasangka mostly bakal menyebabkan salah satu pihak merasa terintimidasi bahkan tertindas. Apalagi umumnya prasangka itu muncul karna adanya perbedaan yg sangat prinsip, yg mungkin aja nggak diniatin oleh seseorang yg berbeda tadi. Contohnya perbedaan agama, etnik, status, ekonomi, jenis kelamin,..bla..bla..bla. Nah, kalo gara-gara perbedaan yg kayak gitu terus dicap yg nggak-nggak, jelas nggak fair, bro! 4. TEACH OUR FRIENDS TO RESPECT AND APPRECIATE DIFFRENCES. Yah, bukannya sok tua sih. Tapi idealnya semua orang emang harus sama-sama belajar buat ngerti dan nerima perbedaan. Nggak bisalah cuma kita sendiri yg mau belajar hal itu, sementara temen-temen yg lain nggak mau. Soalnya pada akhirnya nanti kita juga jadi terintimidasi oleh sikap mereka. Pertanyaannya, gimana cara ngajarinnya? Pertama, kita harus berani nunjukin perbedaan diri sendiri ke mereka. Awalnya mungkin temen-temen nggak bisa nerima, tapi kita nggak boleh gentar. Tunjukin terus perbedaan itu sampe akhirnya mereka bisa ngerti alasan kenapa kita begitu. Toh, meski berbeda bukan berarti kita nggak bisa berteman kan? Kedua, kalo ada temen yg komplain sama perbedaan yg kita miliki atw komplain dgn perbedaan yg dimiliki oleh temen lain, coba beri dia pengertian. Ingetin bahwa yg terpenting dari sum1 adalah apa yg ada didalam dirinya, bukan apa yg tampak di luar dirinya. Maksudnya, gimana niat tuh orang, gimana perhatian tuh orang, sejauh mana tuh orang menghargai komitmen untuk bertemen..dll. 5. JANGAN GAMPANG TERBAWA PANDANGAN STEREOTYPE. Jal, segoblog-goblognya orang, otaknya tetep bisa diajak berfikir dong? Artinya, meski mungkin nyerepnya lama aka lemot, tapi pada akhirnya tetep bisa memilah mana yg bener dan mana yg nggak. Jadi, kalo tiba-tiba kita ngedenger suara-suara sumbang tentang seseorang atau sesuatu, ya jangan buru-buru ngedepanin perasa'an..laah. Dicek dulu ke sumbernya langsung, atw minimal dikritisi dulu.. (cie' elaaah:) bener nggak sih? Mungkin nggak sih? Lha, kalo belum melakukan 'investigasi' apa-apa udah langsung percaya, waaaa...,. Apa bedanya otak kita sama otak udang? 6. BERGAUL..., BERGAUL..., BERGAUL! Makin luas pergaulan kita, makin banyak orang yg berbeda dengan kita yg bakal kita temuin. ***Sumber: ayu, 8 mei 06. ***Sumber lain mengatakan: 'Tidak bergaul menyebabkan hidup seperti kura-kura. Makan dan minum ditempat yg aman, bersembunyi di tempat hebat. Jika kamu mengetuk atau memasukan jarimu ke dalam cangkangnya, mereka sering kali menggigit bahkan menyerangmu' obe, sekarang 09, hehe..
GEPENG (PENGEMIS)
Belum begitu lama, ada sebuah perda (peraturan daerah) yg dikeluarkan
oleh pemda dan pemkot DKI Jakarta,
yakni sanksi atau denda bagi orang-orang yg memberikan uang untuk para pengemis.
Tak pelak, beragam reaksi muncul atas keluarnya perda tersebut.
Ada yg setuju dan ada pula yg tidak setuju.
Namun, yg tidak setuju atau kontra, memang lebih besar.
Karena perda itu terkesan aneh.
Apakah menjadi dermawan dianggap sebagai suatu kejahatan??
Apakah tidak boleh lagi menolong sesama manusia??
Dengan pertanyaan2 demikian, maka wajarlah perda tersebut menuai
kecaman dan protes dari masyarakat.
Disini, saya bukan ingin mengeluarkan penilaian atas perda tersebut.
Tetapi sekedar menganalisa dan menguraikan beberapa masalah disekitar
perda tersebut yg sekiranya layak untuk kita renungkan bersama.
1.) PERDA(pemda)
Mungkin inilah sebuah peraturan yg benar-benar aneh.
Bagaimana tidak aneh, kalau biasanya peraturan dibuat untuk menghukum
orang2 yg berbuat kejahatan.
PERDA ini justru kebalikannya, yaitu peraturan yg dibuat untuk
menghukum orang2 yg pada pandangan umum telah berbuat kebaikan.
Yakni orang2 yg dianggap dermawan yg menyisihkan secuil hartanya untuk
menolong sesama.
Maka tidak mengherankan kalau PERDA ini mendapat kecaman oleh lapisan
masyarakat.
Kemudian,
apa yg menjadi dasar pemda atau pemkot mengeluarkan PERDA yg aneh begini??
Ternyata, kaum gepeng ini sudah menjadi masalah klasik yg mesti
dibenahi oleh pemda atau pemkot.
Karena kehadiran gepeng ini dikatakan merusak (mengganggu) tatanan
kota yg dicanangkan bersih dan asri.
Secara berkala pemda selalu mengadakan razia gepeng.
Para gepeng yg terjaring razia ini kemudian diberi penyuluhan oleh
dinas2 sosial.
Namun, bak kata pepatah:
''patah tumbuh hilang berganti, gugur satu tumbuh seribu''
Begitu pula dengan gepeng ini, bukannya berkurang, malah makin
menjamur di setiap sudut atau lorong, pelataran mall, lampu merah,
pelabuhan dan disetiap tempat2 yg strategis yg ramai dikunjungi
masyarakat.
Dimana silapnya?Adakah penyuluhan dinas sosial kurang maksimal?
Atau mungkin penyuluhan yg diberikan hanyalah sebatas pesan-pesan
moral, sedangkan yg dibutuhkan para gepeng bukan pesan moral,
melainkan pengganjal perut?
Atau, para gepeng ini memang sudah ketagihan untuk hidup bermalas2an?....
Suatu lingkaran setan yg bikin frustasi.
Dan mungkin, rasa frustasi inilah terjadi atas pemda dan pemkot tersebut.
Sehingga mereka mengeluarkan PERDA yg terkesan begitu konyol.
Yakni:
''menjatuhkan sanksi denda untuk orang-orang yg memberikan derma kpd
kaum gepeng''
Mungkin sekali pemda atau pemkot menganggap masalah ini setali tiga
uang, antara penderma dan pengemis.
Seperti API dengan ASAP.
Logikanya, jika tidak bisa membendung asapnya, kenapa tidak mencoba
untuk memadamkan apinya.
Maksudnya, jika tidak bisa menghapuskan pengemis, kenapa tidak
membatasi para pemberinya.
Dan jika para pemberi tidak ada, tentu dengan sendirinya para
peminta-minta inipun tidak akan berkeliaran dijalan-jalan lagi.
Tapi masalahnya tidak segampang itu.
Bukan cuma faktor penderma dan peminta-minta saja.
Tapi masalahnya lebih kompleks.
Keadaan ekonomi yg lemah, sehingga lowongan pekerjaan semakin menyempit.
Hal ini tentunya juga ikut berperan dalam menambah jumlah para gepeng ini.
2.) GEPENG(pengemis)
Diakui atau tidak, tetapi 95persen para pengemis ini terkoordinasi
dengan cukup baik dan rapi.
Sampai-sampai koordinator pengemis ini disebut dengan MAFIA PENGEMIS.
Benar atau tidaknya, dikatakan bahwa setiap pengemis yg tergabung
dalam suatu kelompok, wajib menyetorkan pendapatan hasil mengemisnya
kepada sang koordinator (mafia).
Disebut mafia, tapi secara hukum, sulit untuk menjeratnya.
Karena biasanya mereka berdalih membantu dan menolong para pengemis
dgn menyediakan:
-transfortasi
-pemondokan
-dll.
Maka uang setoran yg dikutip, alasannya adalah sebagai pengganti biaya
akomodasi dan biaya lainnya.
Kemudian, alasan mengemis ini juga bermacam ragamnya.
Ada yg mengusung orang2 cacat, bantuan mesjid, bantuan anakyatim, dan
sebagainya.
Dan tidak jarang pula yg sekedar berpura-pura cacat.
Pernah saya melihat seorang pengemis muda, yg kebetulan saya pernah mengenalnya.
Sebelumnya ia bekerja sebagai kuli bangunan.
Dan pemuda itu sehat tanpa penyakit berat.
Ketika saya bertanya kepadanya kenapa ia berganti profesi menjadi
seorang pengemis?
Jawabannya ringan saja.
Bekerja sebagai kuli cuma menghasilkan 20.000 rupiah.
Sedangkan menjadi pengemis, jumlah 20.000 rupiah itu adalah
penghasilan seminim-minimnya.
.....wah....!!
Pantas, kenapa pula mesti kerja keras dengan cucuran keringat, jika
penghasilan yang didapat lebih kurang dengan yg didapat cuma dengan
duduk-duduk sambil mengulurkan tangan?
harga diri?
Itu urusan belakangan.
Kenapa pengemis yg berpura-pura cacat atau pura-pura minta sumbangan
mesjid atau sumbangan anak yatim begini tidak dijerat dgn hukum
penipuan?
Entahlah...!!
Yang jelas, tidak pernah ada pengaduan dari masyarakat yg menjadi
korban penipuan mereka.
Mungkin karena duit gopek atau seceng itu tidak berarti apa-apa bagi sipemberi.
Padahal, jika seribu rupiah itu dikalikan dengan seratus orang
pemberi, maka diperoleh hasil seratus ribu rupiah.
Bukan jumlah yg kecil untuk ukuran pendapatan rakyat indonesia dalam perharinya.
Maka tidak heran, dengan jumlah sekian banyak, pepatah hilang satu
tumbuh seribu itu cukup memusingkan pemerintah.
3) PEMBERI (dermawan)
Peraturan yg menjatuhkan sanksi denda untuk orang yg memberi derma
kepada para pengemis ini memang aneh dan kelihatannya sedikit konyol.
Bagaimana tidak kelihatan konyol jika menderma dianggap suatu kesalahan.
Tokh..!
Yg didermakan juga adalah milik sendiri.
Tetapi, jika dilihat dari hubungan sebab akibat, yakni:
(Tidak ada asap jika tidak ada api)
Maka PERDA tersebut bisa diterima oleh nalar.
Walaupun itu terkesan dipaksakan dan bukan langkah-langkah yg terbaik.
sebagai langkah alternatif, layak untuk dicoba.
Tetapi tentunya bukan sebagai satu-satunya jalan dalam menyelesaikan masalah.
PERDA itu mestilahditindak lanjuti dengan perbaikan dibidang ekonomi,
peningkatan lapangan pekerjaan, dan tidak kalah pentingnya yaitu,
peningkatan mutu dan ketrampilan daripada sumber daya manusia (SDM)
dinegri kita indonesia tercinta ini.
Dengan demikian, bukan cuma masalah gepeng saja yg dapat teratasi,
tetapi mencakup program pemerintah yg lebih besar, yakni:
Pengentasan kemiskinan dari bumi pertiwi.
Insya alloh...!
--
oleh pemda dan pemkot DKI Jakarta,
yakni sanksi atau denda bagi orang-orang yg memberikan uang untuk para pengemis.
Tak pelak, beragam reaksi muncul atas keluarnya perda tersebut.
Ada yg setuju dan ada pula yg tidak setuju.
Namun, yg tidak setuju atau kontra, memang lebih besar.
Karena perda itu terkesan aneh.
Apakah menjadi dermawan dianggap sebagai suatu kejahatan??
Apakah tidak boleh lagi menolong sesama manusia??
Dengan pertanyaan2 demikian, maka wajarlah perda tersebut menuai
kecaman dan protes dari masyarakat.
Disini, saya bukan ingin mengeluarkan penilaian atas perda tersebut.
Tetapi sekedar menganalisa dan menguraikan beberapa masalah disekitar
perda tersebut yg sekiranya layak untuk kita renungkan bersama.
1.) PERDA(pemda)
Mungkin inilah sebuah peraturan yg benar-benar aneh.
Bagaimana tidak aneh, kalau biasanya peraturan dibuat untuk menghukum
orang2 yg berbuat kejahatan.
PERDA ini justru kebalikannya, yaitu peraturan yg dibuat untuk
menghukum orang2 yg pada pandangan umum telah berbuat kebaikan.
Yakni orang2 yg dianggap dermawan yg menyisihkan secuil hartanya untuk
menolong sesama.
Maka tidak mengherankan kalau PERDA ini mendapat kecaman oleh lapisan
masyarakat.
Kemudian,
apa yg menjadi dasar pemda atau pemkot mengeluarkan PERDA yg aneh begini??
Ternyata, kaum gepeng ini sudah menjadi masalah klasik yg mesti
dibenahi oleh pemda atau pemkot.
Karena kehadiran gepeng ini dikatakan merusak (mengganggu) tatanan
kota yg dicanangkan bersih dan asri.
Secara berkala pemda selalu mengadakan razia gepeng.
Para gepeng yg terjaring razia ini kemudian diberi penyuluhan oleh
dinas2 sosial.
Namun, bak kata pepatah:
''patah tumbuh hilang berganti, gugur satu tumbuh seribu''
Begitu pula dengan gepeng ini, bukannya berkurang, malah makin
menjamur di setiap sudut atau lorong, pelataran mall, lampu merah,
pelabuhan dan disetiap tempat2 yg strategis yg ramai dikunjungi
masyarakat.
Dimana silapnya?Adakah penyuluhan dinas sosial kurang maksimal?
Atau mungkin penyuluhan yg diberikan hanyalah sebatas pesan-pesan
moral, sedangkan yg dibutuhkan para gepeng bukan pesan moral,
melainkan pengganjal perut?
Atau, para gepeng ini memang sudah ketagihan untuk hidup bermalas2an?....
Suatu lingkaran setan yg bikin frustasi.
Dan mungkin, rasa frustasi inilah terjadi atas pemda dan pemkot tersebut.
Sehingga mereka mengeluarkan PERDA yg terkesan begitu konyol.
Yakni:
''menjatuhkan sanksi denda untuk orang-orang yg memberikan derma kpd
kaum gepeng''
Mungkin sekali pemda atau pemkot menganggap masalah ini setali tiga
uang, antara penderma dan pengemis.
Seperti API dengan ASAP.
Logikanya, jika tidak bisa membendung asapnya, kenapa tidak mencoba
untuk memadamkan apinya.
Maksudnya, jika tidak bisa menghapuskan pengemis, kenapa tidak
membatasi para pemberinya.
Dan jika para pemberi tidak ada, tentu dengan sendirinya para
peminta-minta inipun tidak akan berkeliaran dijalan-jalan lagi.
Tapi masalahnya tidak segampang itu.
Bukan cuma faktor penderma dan peminta-minta saja.
Tapi masalahnya lebih kompleks.
Keadaan ekonomi yg lemah, sehingga lowongan pekerjaan semakin menyempit.
Hal ini tentunya juga ikut berperan dalam menambah jumlah para gepeng ini.
2.) GEPENG(pengemis)
Diakui atau tidak, tetapi 95persen para pengemis ini terkoordinasi
dengan cukup baik dan rapi.
Sampai-sampai koordinator pengemis ini disebut dengan MAFIA PENGEMIS.
Benar atau tidaknya, dikatakan bahwa setiap pengemis yg tergabung
dalam suatu kelompok, wajib menyetorkan pendapatan hasil mengemisnya
kepada sang koordinator (mafia).
Disebut mafia, tapi secara hukum, sulit untuk menjeratnya.
Karena biasanya mereka berdalih membantu dan menolong para pengemis
dgn menyediakan:
-transfortasi
-pemondokan
-dll.
Maka uang setoran yg dikutip, alasannya adalah sebagai pengganti biaya
akomodasi dan biaya lainnya.
Kemudian, alasan mengemis ini juga bermacam ragamnya.
Ada yg mengusung orang2 cacat, bantuan mesjid, bantuan anakyatim, dan
sebagainya.
Dan tidak jarang pula yg sekedar berpura-pura cacat.
Pernah saya melihat seorang pengemis muda, yg kebetulan saya pernah mengenalnya.
Sebelumnya ia bekerja sebagai kuli bangunan.
Dan pemuda itu sehat tanpa penyakit berat.
Ketika saya bertanya kepadanya kenapa ia berganti profesi menjadi
seorang pengemis?
Jawabannya ringan saja.
Bekerja sebagai kuli cuma menghasilkan 20.000 rupiah.
Sedangkan menjadi pengemis, jumlah 20.000 rupiah itu adalah
penghasilan seminim-minimnya.
.....wah....!!
Pantas, kenapa pula mesti kerja keras dengan cucuran keringat, jika
penghasilan yang didapat lebih kurang dengan yg didapat cuma dengan
duduk-duduk sambil mengulurkan tangan?
harga diri?
Itu urusan belakangan.
Kenapa pengemis yg berpura-pura cacat atau pura-pura minta sumbangan
mesjid atau sumbangan anak yatim begini tidak dijerat dgn hukum
penipuan?
Entahlah...!!
Yang jelas, tidak pernah ada pengaduan dari masyarakat yg menjadi
korban penipuan mereka.
Mungkin karena duit gopek atau seceng itu tidak berarti apa-apa bagi sipemberi.
Padahal, jika seribu rupiah itu dikalikan dengan seratus orang
pemberi, maka diperoleh hasil seratus ribu rupiah.
Bukan jumlah yg kecil untuk ukuran pendapatan rakyat indonesia dalam perharinya.
Maka tidak heran, dengan jumlah sekian banyak, pepatah hilang satu
tumbuh seribu itu cukup memusingkan pemerintah.
3) PEMBERI (dermawan)
Peraturan yg menjatuhkan sanksi denda untuk orang yg memberi derma
kepada para pengemis ini memang aneh dan kelihatannya sedikit konyol.
Bagaimana tidak kelihatan konyol jika menderma dianggap suatu kesalahan.
Tokh..!
Yg didermakan juga adalah milik sendiri.
Tetapi, jika dilihat dari hubungan sebab akibat, yakni:
(Tidak ada asap jika tidak ada api)
Maka PERDA tersebut bisa diterima oleh nalar.
Walaupun itu terkesan dipaksakan dan bukan langkah-langkah yg terbaik.
sebagai langkah alternatif, layak untuk dicoba.
Tetapi tentunya bukan sebagai satu-satunya jalan dalam menyelesaikan masalah.
PERDA itu mestilahditindak lanjuti dengan perbaikan dibidang ekonomi,
peningkatan lapangan pekerjaan, dan tidak kalah pentingnya yaitu,
peningkatan mutu dan ketrampilan daripada sumber daya manusia (SDM)
dinegri kita indonesia tercinta ini.
Dengan demikian, bukan cuma masalah gepeng saja yg dapat teratasi,
tetapi mencakup program pemerintah yg lebih besar, yakni:
Pengentasan kemiskinan dari bumi pertiwi.
Insya alloh...!
--
Kamis, Oktober 8
Mengukur diri
Sering kali kita dengar kalimat begini:
''kalau orang lain bisa, kenapa aku tidak?''
Kata-kata yg cukup menggelitik telinga.
Apalagi kata-kata itu keluar dari anak-anak tanggung atau istilahnya ABG...ehe..
Karena biasanya, kalimat yg diucapkan itu diiringi dengan busungan
dada dan kepala tengadah dengan tatapan yg setajam mata
elang..wuiiih..!
Optimistis????
Tentunya suatu hal yg perlu untuk senantiasa optimis dalam segala hal.
Cuma, jangan rasa optimis itu hanya membuta.
Tanpa melihat kepada kemampuan diri sendiri.
Karena hal itu malah akan menjadi bomerang yg akan mencelakakan diri
sendiri dan bahkan diri orang lain.
Kalimat-
''Kalau orang bisa kenapa aku tidak''
Seperti sebuah pedang bermata dua yg tajam pada kedua belah sisinya.
Ada nilai positifnya dan ada pula nilai negatifnya.
Kalimat itu akan bernilai positiv jika sebelumnya kita mau mengukur
diri kita terlebih dahulu.
Sebab, walau bagaimanapun tidak ada manusia itu yg sempurna.
Ada hal2 yg mampu dilakukan orang lain yg kita tidak mampu untuk melakukannya.
Begitu pula sebaliknya, ada hal yg bisa kita lakukan yg oleh orang
lain tidak bisa.
Yg terpenting adalah kesadaran untuk mengukur diri terlebih dahulu,
sehingga kita tidak termasuk
ORANG-ORANG YG TIDAK TAHU DIRI.
Sangat berbahaya jika tidak mengetahui kapasitas diri itu bagaimana.
Seperti, seorang pelajar yg melihat teman-temannya berangkat kesekolah
pakai motor.
Terus hinggap kalimat-
''kalau orang lain bisa pakai motor kenapa aku tidak?''
Tetapi dia tidak melihat keadaan dirinya, keadaan orang tuanya yg
hanya bekerja sebagai kuli bangunan.
Maka jadilah ia merongrong kehidupan ortunya.
Atau dia akan mengusahakan keinginannya dengan jalan mencuri atau
merampok harta orang lain.
Atau seorang pejabat yg karena ambisinya mengambil dan mengejar-ngejar
jabatan pada satu bidang yg tidak ia kuasai.
Hanya membuta dengan kesombongan dirinya
'kalau orang lain bisa kenapa aku tidak?'
Maka yg terjadi, ketika jabatan itu ia pegang, tidak berjalan sebagaimana mestinya yg malah merugikan orang lain.
Seperti silet atau mata pedang yg tajam kedua sisinya.
Ya...
Kalimat:
'kalau orang lain bisa kenapa aku tidak'
Seperti dua mata pedang.
Karena kalimat itu juga bisa menjadi nilai tambah yg sangat berguna
bagi diri kita dalam memperkuat keinginan
atau cita-cita
atau hemah
atau yg sering kita sebut dengan:
....MOTIVASI...
Seperti seorang pelajar yg lemah dalam pelajaran mate-matika.
Jika si fulan bisa pintar dalam mata pelajaran itu, kenapa aku tidak??
Gurunya sama.
Kelasnya sama.
Sekolahnya sama.
Yg dipelajari juga sama.
Maka dengan motivasi jika sifulan bisa kenapa aku tidak?
Murid itu lebih giat lagi belajarnya.
Lebih konsentrasi dalam menghafal pelajaran dan sebagainya.
Sehingga ia memperoleh kemajuan, walau mungkin tidak diatas sifulan,
tetapi cukup memadai dgn lebih memahami pelajaran tersebut.
Demikianlah penulis mengajak saudara yg membaca blog ini untuk
memanfaat kan kalimat:
Jika orang lain bisa kenapa kita tidak?
Tetapi, yg mesti diingat terlebih dahulu, hendaknya kita mengukur
kemampuan diri kita.
Agar kita terhindar dari optimis membuta
atau
kesombongan dan keegoisan pribadi.
....wassalam....
''kalau orang lain bisa, kenapa aku tidak?''
Kata-kata yg cukup menggelitik telinga.
Apalagi kata-kata itu keluar dari anak-anak tanggung atau istilahnya ABG...ehe..
Karena biasanya, kalimat yg diucapkan itu diiringi dengan busungan
dada dan kepala tengadah dengan tatapan yg setajam mata
elang..wuiiih..!
Optimistis????
Tentunya suatu hal yg perlu untuk senantiasa optimis dalam segala hal.
Cuma, jangan rasa optimis itu hanya membuta.
Tanpa melihat kepada kemampuan diri sendiri.
Karena hal itu malah akan menjadi bomerang yg akan mencelakakan diri
sendiri dan bahkan diri orang lain.
Kalimat-
''Kalau orang bisa kenapa aku tidak''
Seperti sebuah pedang bermata dua yg tajam pada kedua belah sisinya.
Ada nilai positifnya dan ada pula nilai negatifnya.
Kalimat itu akan bernilai positiv jika sebelumnya kita mau mengukur
diri kita terlebih dahulu.
Sebab, walau bagaimanapun tidak ada manusia itu yg sempurna.
Ada hal2 yg mampu dilakukan orang lain yg kita tidak mampu untuk melakukannya.
Begitu pula sebaliknya, ada hal yg bisa kita lakukan yg oleh orang
lain tidak bisa.
Yg terpenting adalah kesadaran untuk mengukur diri terlebih dahulu,
sehingga kita tidak termasuk
ORANG-ORANG YG TIDAK TAHU DIRI.
Sangat berbahaya jika tidak mengetahui kapasitas diri itu bagaimana.
Seperti, seorang pelajar yg melihat teman-temannya berangkat kesekolah
pakai motor.
Terus hinggap kalimat-
''kalau orang lain bisa pakai motor kenapa aku tidak?''
Tetapi dia tidak melihat keadaan dirinya, keadaan orang tuanya yg
hanya bekerja sebagai kuli bangunan.
Maka jadilah ia merongrong kehidupan ortunya.
Atau dia akan mengusahakan keinginannya dengan jalan mencuri atau
merampok harta orang lain.
Atau seorang pejabat yg karena ambisinya mengambil dan mengejar-ngejar
jabatan pada satu bidang yg tidak ia kuasai.
Hanya membuta dengan kesombongan dirinya
'kalau orang lain bisa kenapa aku tidak?'
Maka yg terjadi, ketika jabatan itu ia pegang, tidak berjalan sebagaimana mestinya yg malah merugikan orang lain.
Seperti silet atau mata pedang yg tajam kedua sisinya.
Ya...
Kalimat:
'kalau orang lain bisa kenapa aku tidak'
Seperti dua mata pedang.
Karena kalimat itu juga bisa menjadi nilai tambah yg sangat berguna
bagi diri kita dalam memperkuat keinginan
atau cita-cita
atau hemah
atau yg sering kita sebut dengan:
....MOTIVASI...
Seperti seorang pelajar yg lemah dalam pelajaran mate-matika.
Jika si fulan bisa pintar dalam mata pelajaran itu, kenapa aku tidak??
Gurunya sama.
Kelasnya sama.
Sekolahnya sama.
Yg dipelajari juga sama.
Maka dengan motivasi jika sifulan bisa kenapa aku tidak?
Murid itu lebih giat lagi belajarnya.
Lebih konsentrasi dalam menghafal pelajaran dan sebagainya.
Sehingga ia memperoleh kemajuan, walau mungkin tidak diatas sifulan,
tetapi cukup memadai dgn lebih memahami pelajaran tersebut.
Demikianlah penulis mengajak saudara yg membaca blog ini untuk
memanfaat kan kalimat:
Jika orang lain bisa kenapa kita tidak?
Tetapi, yg mesti diingat terlebih dahulu, hendaknya kita mengukur
kemampuan diri kita.
Agar kita terhindar dari optimis membuta
atau
kesombongan dan keegoisan pribadi.
....wassalam....
Selasa, Oktober 6
Hubungan Antara Persatuan dan Pasir?
By Kazuyago (Hikmawan Ali Nova)
Baru pulang dari shalat Jumat, sekilas mendengar tentang pentingnya persatuan di antara kita. Ah, dalam hati pasti kita bilang, biasa aja lah. Daridulu kita juga udah bersatu kok, kalau nggak mustahil kita bisa sebesar sekarang ini, dengan belasan ribu pulau dan ratusan suku? Tapi, tunggu dulu. Pak khatib ngasih satu perumpamaan bagus:
"Persatuan jangan sekedar hanya terlihat luarnya saja, seperti pasir di pantai"
Maksudnya???
"Pasir di pantai terlihat bersatu dan indah bila kita lihat dari jauh, tapi bila kita mendekat dan menyentuhnya baru terasa bahwa pasir itu tercerai berai."
Ya, hanya karena pasir terlihat banyak dan saling menumpuk maka kita menyimpulkan sudah bersatu. Padahal, nyata bahwa pasir itu mudah sekali terberai, hancur, dan terpisah-pisah entah karena diacak-acak anak kecil, terinjak-injak manusia yang lalu lalang, atau tersapu ombak, yang akhirnya membawa butiran-butiran pasir itu hilang tak berbekas ke dasar samudera.
Lalu, terbersit tanya dalam hati, apakah kita ternyata seperti itu? Mengaku-ngaku memiliki persatuan kokoh tapi konflik mudah tersulut. Mengaku bertanah air satu, tapi selalu menonjolkan kesukuan. Pencinta damai tapi sering jadi provokator. Apakah kita seperti pasir di pantai yang mudah sekali terombang-ambing dan hancur??
Mengapa pula kita tidak menganalogikan pasir lagi. Tapi pasir ini bersatu dengan semen dan air, sehingga akhirnya menjadi batu keras yang tentu saja tak mudah terkalahkan oleh badai sekalipun. Indahnya dunia ini jika kita masing-masing mau untuk menepikan sedikit keegoisan kita dan mengakui keberadaan orang lain dengan potensinya masing-masing. Jika kita mampu mensinergikan kelebihan masing-masing dengan individu yang lain, coba bayangkan bagaimana hebatnya Indonesia. Siapa yang tidak segan dengan negara berpenduduk 250juta lebih jiwa yang saling bahu membahu? Bukan mustahil kita menjadi negara superpower berikutnya...
Eh, ntar dulu aja deh mimpinya... Kayanya berlebihan banget hehehe... C U, dan tetep semangat!!
(Repost dari blog q heheh)
Baru pulang dari shalat Jumat, sekilas mendengar tentang pentingnya persatuan di antara kita. Ah, dalam hati pasti kita bilang, biasa aja lah. Daridulu kita juga udah bersatu kok, kalau nggak mustahil kita bisa sebesar sekarang ini, dengan belasan ribu pulau dan ratusan suku? Tapi, tunggu dulu. Pak khatib ngasih satu perumpamaan bagus:
"Persatuan jangan sekedar hanya terlihat luarnya saja, seperti pasir di pantai"
Maksudnya???
"Pasir di pantai terlihat bersatu dan indah bila kita lihat dari jauh, tapi bila kita mendekat dan menyentuhnya baru terasa bahwa pasir itu tercerai berai."
Ya, hanya karena pasir terlihat banyak dan saling menumpuk maka kita menyimpulkan sudah bersatu. Padahal, nyata bahwa pasir itu mudah sekali terberai, hancur, dan terpisah-pisah entah karena diacak-acak anak kecil, terinjak-injak manusia yang lalu lalang, atau tersapu ombak, yang akhirnya membawa butiran-butiran pasir itu hilang tak berbekas ke dasar samudera.
Lalu, terbersit tanya dalam hati, apakah kita ternyata seperti itu? Mengaku-ngaku memiliki persatuan kokoh tapi konflik mudah tersulut. Mengaku bertanah air satu, tapi selalu menonjolkan kesukuan. Pencinta damai tapi sering jadi provokator. Apakah kita seperti pasir di pantai yang mudah sekali terombang-ambing dan hancur??
Mengapa pula kita tidak menganalogikan pasir lagi. Tapi pasir ini bersatu dengan semen dan air, sehingga akhirnya menjadi batu keras yang tentu saja tak mudah terkalahkan oleh badai sekalipun. Indahnya dunia ini jika kita masing-masing mau untuk menepikan sedikit keegoisan kita dan mengakui keberadaan orang lain dengan potensinya masing-masing. Jika kita mampu mensinergikan kelebihan masing-masing dengan individu yang lain, coba bayangkan bagaimana hebatnya Indonesia. Siapa yang tidak segan dengan negara berpenduduk 250juta lebih jiwa yang saling bahu membahu? Bukan mustahil kita menjadi negara superpower berikutnya...
Eh, ntar dulu aja deh mimpinya... Kayanya berlebihan banget hehehe... C U, dan tetep semangat!!
(Repost dari blog q heheh)
Langganan:
Postingan (Atom)