By Xram
Setiap ibadah, masing2nya mempunyai jaminan tersendiri. Seperti sholat yang nyata dikatakan: ''Mencegah dari perbuatan keji dan mungkar''. Begitu pula dengan puasa yang dapat menjinakkan nafsu amarah.
Lalu, bagaimana dgn do'a? Adakah jaminannya?
Firman Alloh SWT:
''Ud'uni astadjib lakum'' (Mintalah, niscaya aku qabulkan). Inilah janji Alloh SWT dalam Al-Qur'an kepada jin dan manusia.
Tentunya, selama ini kita telah banyak berdo'a dan ternyata tidak atau belum diqabulkan? Sudah pasti akan timbul pertanyaan didalam hati kita Adakah Alloh SWT mungkir akan janjinya yg terdapat dlm Al-Qur'an? Atau kita yang tidak benar2 berdo'a?
Seperti amal ibadah lainnya, yang pasti memiliki syarat dan rukun, begitu pula dengan ibadah do'a yang sudah barang tentu pula ada syarat dan ada rukunnya. Beberapa syarat dlm berdo'a yg saya nukil dari kitab ''SYRUS SALIKIN ''Ikhtisar Ihya Ulumiddin:
1). KENAL TEMPAT MEMINTA.
Dunia ini adalah cerminan dari akhirat. Maka ibaratnya kita meminta kpd seseorang, niscaya, kita mesti mengenal org yg kita pinta tersebut dan yg memberi pun kenal pula kpd kita. Tentu saja jika kita tidak kenal kpd tempat kita meminta, maka kita pun tidak akan diberi.
Inilah syarat utama dalam meminta atau berdo'a. Yakni, mengenal kpd siapa kita berdo'a.
Mengenal disini, adalah mengenal alloh, tempat setiap makhluk berkehendak. Ini juga sesuai hadist Rasululloh SAW: ''Awaluddin ma'rifatulloh'' (Awal dari agama, mengenal Alloh).
Jadi, apakah yang tidak mengenal Alloh, maka do'anya tidak akan diqabulkan??
Disinilah perbedaan antara sifat AR-ROHMAN dan AR-ROHIM. Alloh ta'ala Maha Adil. Sesuai dengan Ar-rohmanNya, yakni Maha Pengasih, maka siapapun dia, majusi, jahudi, nasoro atau munafiq, tetap dikasih. Tidak ada pengecualian dalam sifat Ar-Rohman ini. Tapi khusus Ar-Rohim, yakni kasih sayang Alloh kpd orang2 mukmin, orang2 yang ma'rifat yakni org yg mengenal akan DIA.
Jika ditamsilkan pada dunia, ibarat orangtua yang memiliki 2 anak. Yang satu nakal dan bandel, yang satu lagi baik dan penurut. Ketika anak baik minta uang jajan kesekolah misalnya, ortu akan memberi dgn rasa sayang. Begitu pula Ketika anak yg nakal minta duit tuk jajan disekolah, orangtua akan tetap memberi dengan jumlah yang sama tapi mungkin dengan sedikit rasa jengkel, sebab si anak akan berbuat nakal dengan uang itu.
Tapi ini hanya sekedar tamsil atau ibarat untuk mendekatkan paham. Sebab, Alloh ta'ala Mahasuci dari sekalian ibarat.
2).TAHU DENGAN APA YANG DIMINTA.
Syarat yang kedua ini juga penting. Jangan meminta dengan barang yang kita tidak tahu. Seperti jika minta pesawat, maka kita mesti tahu apa itu pesawat, tahu bagaimana mengemudikan pesawat. Jika kita tidak tahu dengan apa yang kita minta, maka seolah-olah kita mempermain-mainkan Alloh ta'ala.
Begitu pula jika kita minta kesehatan. Mesti tau untuk apa kita gunakan sehat kita tersebut. Juga ketika kita meminta ditetapkan iman, maka kita kudu tahu apa itu yang disebut dengan iman.
Kuncinya, kita mesti tahu benar dengan apa-apa yang kita minta.
3).WAKTU MEMINTA
Hal ini juga sangat penting diperhatikan. Memang, tidak ada hukum yang melarang kapan atau dimana kita berdo'a. Bisa kapan saja dan dimana saja. Yang ditekankan di sini adalah afdol dan terlebih afdol. Baik dan terlebih baik.
Jadi, berdo'a itu kapan dan dimanapun tetap baik. Tapi, tentunya ada waktu yg terlebih baik yakni dimana waktu itu pintu babul rahmat terbuka. Dikatakan disini, waktu yg terlebih afdol untuk berdo'a, itu dimana pintu babul rahmat alloh terbuka yakni:
- Pergantian siang dengan malam atau sesaat menjelang waktu sholat maghrib.
- Pergantian malam dgn siang atau sesaat menjelang fajar shiddiq.
Inilah waktu dimana paling afdol untuk kita berdo'a. Mengapa waktu ini sangat penting??
Jika kita tamsilkan atau kita ibaratkan pada dunia (tapi, sekali lagi, ini cuma sekedar ibarat untuk mendekatkan pemahaman):
Seandainya kita meminta kpd org yg lagi di WC, maka tak pelak, kita akan dikasih e'ek.
Atau kita minta kpd org yg lagi sakit gigi misalnya, syukur2 kita tidak dikasih bogem mentah.
Setelah syarat2 berdo'a tadi, yg juga penting diperhatikan adalah ADAB dalam berdo'a:
- Suci dari hadast besar dan hadast kecil (berwudlu)
- Tidak memanjang-manjangkan do'a. Hal ini seolah-olah kita terkesan bukan meminta tapi seperti mengatur-ngatur Alloh.
- Jangan bersanjak-sanjak. Sebab Alloh tidak sama dengan makhluk. Dan Alloh tidak pekak. Alloh Maha Mendengar apa2 yang maujud dalam alam, bahkan Alloh mendengar segala gerak2 di dalam hati kita yang tiada hurup dan tiada suara.
- Tawadlu dan ikhlas karena Alloh.
Jika syarat dan adab telah kita kerjakan INSYA ALLOH do'a kita akan jadi mustadjab.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar